Energi Juang News, Jakarta– Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengubah pendekatan dagangnya terhadap China dengan mengisyaratkan kemungkinan penurunan tarif impor atas produk-produk asal Negeri Tirai Bambu.
Dalam wawancara yang direkam NBC pada Jumat (2/5), Trump menyebut bahwa kelanjutan hubungan dagang antara kedua negara tak bisa terwujud tanpa relaksasi tarif. “Pada titik tertentu, saya akan menurunkannya karena jika tidak, Anda tidak akan pernah bisa berbisnis dengan mereka,” ujarnya.
Trump mengklaim ekonomi China saat ini tengah berada di ujung tanduk. Ia menggambarkan situasi dengan menyebut banyak pabrik di China mulai tutup dan pengangguran meningkat drastis.
Namun di sisi lain, ia tetap menyiratkan ketidakrelaan jika kebijakan lunaknya dimanfaatkan China untuk memperkuat kapasitas militernya. “Saya tidak berharap China meraup ratusan miliar dolar dan membangun lebih banyak kapal, tank Angkatan Darat, dan pesawat,” kata Trump dalam pernyataan yang dikutip Fox News.
Saat ditanya oleh jurnalis NBC Kristen Welker mengenai kemungkinan menjadikan penurunan tarif sebagai strategi negosiasi, Trump menolak keras. “Kenapa saya harus melakukan itu?” jawabnya, menggambarkan ketegangan dan keraguan yang masih menggelayuti dinamika diplomasi dagang antara Washington dan Beijing.
Di saat yang hampir bersamaan, Kementerian Perdagangan China melalui juru bicaranya mengonfirmasi bahwa mereka tengah mempertimbangkan proposal dari AS untuk memulai kembali pembicaraan dagang. Isyarat ini menunjukkan adanya pelunakan sikap dari kedua belah pihak, yang selama ini saling balas tarif dalam perang dagang berkepanjangan.
Dua pekan sebelumnya, Trump bahkan menyebut tarif terhadap produk-produk China “akan turun secara substansial” dan menyatakan kesediaannya untuk bersikap “sangat baik” di meja perundingan demi mendorong Presiden Xi Jinping membuka ruang dialog.
Sejak April lalu, konflik dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia ini memanas. AS menaikkan tarif pada berbagai produk China hingga 145 persen. Sebagai respons, China membalas dengan mengenakan tarif baru hingga 125 persen terhadap barang-barang dari AS.
Kebijakan saling jegal ini memberi dampak serius pada ekonomi China yang sangat bergantung pada sektor ekspor dan manufaktur. Data terbaru menunjukkan penurunan tajam dalam aktivitas pabrik dan merosotnya pesanan ekspor ke titik terendah sejak 2022.
Di tengah ketegangan ini, sejumlah perusahaan ritel besar AS seperti Walmart dan Target telah kembali melakukan transaksi dengan pemasok di China. Meski demikian, banyak pabrik di China masih belum beroperasi penuh dan kini mulai mengeksplorasi pasar alternatif seperti Eropa untuk mengurangi ketergantungan terhadap AS.
Redaksi Energi Juang News



