Energi Juang News, Jakarta– Dua orang dilaporkan meninggal dunia dalam sebuah serangan udara yang menghantam wilayah dekat kota Tripoli, Lebanon, pada Selasa (8/7). Militer Israel mengklaim bahwa operasi tersebut ditujukan kepada anggota Hamas, yang memiliki hubungan erat dengan kelompok Hizbullah.
Serangan ini menjadi insiden signifikan pertama di wilayah Lebanon sejak perjanjian gencatan senjata dengan Hizbullah dicapai pada November tahun lalu. Waktu serangan pun bertepatan dengan berlangsungnya pembicaraan damai antara Israel dan Hamas di Qatar, di tengah meningkatnya korban jiwa dari pihak Israel di Jalur Gaza.
Dilansir dari AFP, Rabu (9/7/2025), militer Israel menyebut bahwa mereka melakukan pengeboman terhadap lokasi yang diduga menjadi basis operasi Hamas di Lebanon. Pernyataan resmi menyebut targetnya adalah seorang anggota penting kelompok Hamas yang berada di kawasan Tripoli.
“Militer Israel telah melancarkan serangan terhadap seorang teroris kunci dari Hamas yang berada di wilayah Tripoli, Lebanon,” demikian bunyi pernyataan dari pihak militer Israel, tanpa memberikan rincian tambahan.
Serangan tersebut mengenai sebuah kendaraan di dekat kamp pengungsi Palestina. Korban tewas mencapai dua orang, sedangkan tiga lainnya luka-luka.
Ini bukan kali pertama Israel menyerang anggota Hamas di Lebanon. Sebelumnya, pada bulan Mei, militer Israel mengklaim berhasil menewaskan seorang komandan Hamas di kota Sidon, wilayah selatan Lebanon. Komandan tersebut disebut sebagai kepala operasi Brigade Barat Hamas di negara itu.
Umumnya, serangan Israel lebih sering terjadi di wilayah selatan Lebanon yang menjadi basis kekuatan Hizbullah. Namun, serangan di kawasan utara seperti Tripoli tergolong jarang, sehingga insiden kali ini menjadi perhatian khusus.
Militer Israel menyerang Hamas dan menewaskan dua anggota Hizbullah di Lebanon selatan. Insiden itu terjadi sehari sebelum serangan di Tripoli.
Situasi di perbatasan Israel-Lebanon semakin mengkhawatirkan seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Meski telah ada gencatan senjata, aksi-aksi militer terus berlanjut dan memperbesar risiko konfrontasi terbuka antara kekuatan besar di wilayah tersebut.
Redaksi Energi Juang News



