Energi Juang News, Jakarta – Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia pada Minggu (17/8/2025) menjadi momentum untuk mengenang jasa para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan di Lamongan. Di wilayah ini berdiri dua monumen penting sebagai saksi sejarah, yaitu Patung Kuda Putih Mayangkara di Kecamatan Mantup dan Tugu Peringatan di Desa Gumantuk, Kecamatan Maduran.
Kedua monumen tersebut memiliki kisah heroik di balik pembangunannya. Pada Tugu Peringatan Gumantuk, nama-nama Kadet Soewoko, Kopral Widodo, Kopral Sukaeri, dan Kopral Lasiban diabadikan sebagai bentuk penghormatan. Kadet Soewoko, tokoh kelahiran Malang tahun 1928, dikenal berani melawan pasukan Belanda pada Agresi Militer II tahun 1949. Dalam pertempuran di Lamongan, meski terkepung pasukan Belanda yang jumlahnya lebih banyak, Soewoko tetap memilih bertempur hingga gugur bersama tiga rekannya. Kata-kata terakhirnya, “Saya tidak mau menyerah, bunuh saya,” masih dikenang hingga kini.
Selain itu, keberadaan Monumen Kuda Putih Mayangkara juga sarat makna. Nama Mayangkara diambil dari kuda putih pemberian kepala desa kepada Mayor Djarot Subiyantoro saat Batalyon Djarot bermarkas di Mantup pada tahun 1946. Dari situlah lahir Batalyon 503 Mayangkara yang melakukan perlawanan gerilya terhadap Belanda di Lamongan. Monumen ini diresmikan pada 9 Desember 1970 dan dihiasi relief perjuangan serta pesan moral Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Kabid Pemasaran Disparbud Lamongan, Sahlul Muarikh, menyebut setiap tahun diadakan gerak jalan napak tilas Mayangkara sebagai bentuk penghormatan simbolis kepada para pejuang. Sementara itu, pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo, menegaskan pentingnya menjaga kedua monumen tersebut sebagai warisan sejarah dan sarana menanamkan semangat bela negara.
Dengan adanya monumen Kadet Soewoko dan Mayangkara, masyarakat Lamongan diingatkan untuk terus menghargai perjuangan para pahlawan serta menumbuhkan nilai juang dalam kehidupan berbangsa.
Redaksi Energi Juang News



