Energi Juang News, Jakarta– Pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menuai sorotan. Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai pertemuan tersebut lebih sarat kepentingan politik dibandingkan isu kebangsaan.
“Pertemuan itu kental nuansa politik, bukan soal kebangsaan,” kata Dedi melalui pesan singkat, Rabu (8/10/2025).
Jokowi Disebut Cari Perlindungan
Menurut Dedi, langkah Jokowi menemui Prabowo bisa dimaknai sebagai upaya mencari perlindungan politik. Hal ini dikaitkan dengan sejumlah isu hukum yang menyeret nama mantan Gubernur Jakarta itu.
“Mulai dari masalah ijazah hingga wacana keterlibatan dalam kasus yang ditangani KPK, termasuk skandal korupsi eks Menteri Nadiem sampai status tersangka Riza Chalid, semuanya berpotensi menyeret nama Jokowi,” ungkap Dedi.
Legitimasi Gibran Ikut Digugat
Selain itu, posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga tengah digoyang. Putra sulung Jokowi itu dipersoalkan publik dengan isu serupa, mulai dari keabsahan ijazah hingga legitimasi pencalonan yang dianggap menabrak konstitusi.
Dedi menambahkan, Prabowo hingga kini belum pernah menunjukkan sikap terkait kontroversi yang melibatkan Jokowi maupun keluarganya. Diamnya Prabowo inilah, menurutnya, membuat Jokowi merasa perlu melakukan pendekatan lebih intens.
Pertemuan Sarat Muatan Politik
Pertemuan Jokowi–Prabowo yang berlangsung di Kertanegara dianggap bukan sekadar silaturahmi, tetapi lebih pada konsolidasi kepentingan politik.
“Yang jelas bukan bicara bangsa, tapi bicara posisi politik. Jokowi sedang memastikan dirinya masih punya sandaran di tengah guncangan isu yang menyeretnya,” pungkas Dedi.
Redaksi Energi Juang News



