Energi Juang News, Washington D.C.— Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, kembali melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Donald Trump. Ia menilai kebijakan dan tindakan Trump telah menjerumuskan Amerika ke masa kelam yang belum berakhir.
Berbicara di depan para pendukung Partai Demokrat, Obama menggambarkan situasi politik negaranya seperti sedang “berjalan dalam kegelapan tanpa peta.” Ia menyoroti langkah Trump yang dinilai sembrono dan tanpa arah.
Menurut laporan Reuters, Obama berpidato di dua negara bagian Virginia dan New Jersey untuk mendukung kandidat partainya. Ia menyerukan agar masyarakat menolak “pemerintahan tanpa hukum dan penuh kecerobohan” di bawah kepemimpinan Trump.
“Negara kita sedang melalui masa yang gelap dan tidak pasti,” ujar Obama. Ia menilai setiap hari publik disuguhi drama baru dari Gedung Putih yang mencerminkan kekacauan dan kebijakan tanpa kendali.
Obama juga mengkritik kebijakan tarif Trump yang disebutnya “kacau dan impulsif.” Ia menilai kebijakan tersebut bukan hanya merusak ekonomi, tapi juga memperdalam perpecahan nasional.
Tidak berhenti di situ, Obama mengecam pengerahan pasukan Garda Nasional ke sejumlah kota di AS. Ia menuding langkah itu dilakukan bukan demi keamanan, melainkan demi citra politik semata.
“Seolah setiap hari seperti Halloween penuh tipu muslihat tanpa sedikit pun hiburan,” sindirnya tajam.
Mantan presiden dua periode itu bahkan menyinggung perilaku para elit bisnis dan akademisi yang menurutnya terlalu tunduk pada kekuasaan Trump. Ia menyebut mereka “berlutut demi kepentingan sempit.”
Dalam acara kampanye di Newark, New Jersey, Obama kembali melontarkan sindiran soal renovasi Gedung Putih di masa pemerintahan Trump.
“Trump tampaknya lebih sibuk menutup Rose Garden dengan aspal ketimbang memperbaiki nasib rakyat,” katanya. Ia juga menyinggung pembangunan ballroom senilai 300 juta dolar yang disebutnya tidak memiliki urgensi publik.
Kritik Obama ini mempertegas ketegangan politik yang terus memanas menjelang pemilu mendatang, di mana masa depan Partai Demokrat kembali dipertaruhkan.
Redaksi Energi Juang News



