Energi Juang News, Jakarta- Pandji Pragiwaksono, komika ternama tanah air, kini jadi sorotan tajam setelah lawakan tunggalnya yang membahas ritual pemakaman adat Toraja viral dan dianggap melecehkan budaya setempat. Dalam materi yang disajikan pada 2013 silam, Pandji menyindir mahalnya biaya pesta pemakaman, bahkan menyebut banyak warga Toraja jatuh miskin dan tidak mampu memakamkan keluarga hingga jenazah disebut disimpan di rumah.
Potongan video tersebut menuai kecaman keras dari masyarakat dan organisasi adat Toraja. Mereka menegaskan pernyataan Pandji tidak berdasar, sebab prosesi pemakaman Rambu Solo’ adalah upacara sakral, dengan perencanaan biaya dan pelaksanaan yang diputuskan bersama keluarga, bukan sekadar pemborosan. Praktik menyimpan jenazah di ruang tamu pun dikoreksi; kenyataannya, jasad diletakkan di kamar khusus layaknya orang tidur dan pada pesta disimpan di tempat tertinggi, bukan di depan televisi seperti yang digambarkan Pandji.
Imbas lawakan Pandji bukan sekadar kecaman di jagat maya, tapi berbuah laporan ke Bareskrim Polri oleh Aliansi Pemuda Toraja. Lembaga adat bahkan menuntut hukuman adat sampai 50 ekor kerbau sebagai sanksi atas pelanggaran nilai budaya. Sosiolog Tana Toraja menyatakan komika harus bertanggung jawab sepenuhnya dan menegaskan lontaran Pandji berpotensi memicu isu SARA.
Setelah gelombang kritik, Pandji akhirnya buka suara dan meminta maaf terbuka kepada masyarakat Toraja melalui akun Instagramnya. Ia mengakui leluconnya ignorant setelah berdialog dengan Sekjen AMAN, Rukka Sombolinggi, dan berjanji belajar dari insiden tersebut. Pandji juga menyatakan siap menjalani dua proses hukum: laporan negara dan hukum adat yang hanya bisa diselesaikan di Toraja.
Redaksi Energi Juang News



