Energi Juang News, Jakarta- Analis menilai saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan nikel dengan cadangan terbesar, berpotensi meledak karena intervensi kebijakan pemerintah.
Dampak Kebijakan Moratorium Nikel terhadap Harga dan Pasar Global
Berdasarkan riset Yuanta Sekuritas, pemerintah berniat menerapkan moratorium investasi nikel, meliputi nickel pig iron dan produk nikel kelas 2 lainnya, mixed hydroxide precipitate (MHP), dan nikel matte. Hal itu untuk meningkatkan nilai tambah nikel produksi Indonesia.
Yuanta percaya, kebijakan ini tidak akan langsung mengerek harga nikel dunia. Sebab, smelter yang sedang dalam tahap konstruksi dikecualikan dari kebijakan itu.
Baca juga : IHSG Diprediksi Menguat, Saham Apa Saja Yang Menggiurkan?
“Selain itu, harga NPI kini turun akibat faktor musiman. Beberapa fasilitas HPAL yang memproduksi MHP beroperasi tahun depan, menambah kapasitas sekitar 500 ribu ton per tahun,” tulis Yuanta dalam riset, dikutip Minggu (14/12/2025).
Namun, dalam jangka panjang, broker ini memprediksi pengetatan ivestasi smelter adalah langkah tepat untuk mengurangi banjir pasokan ke pasar nikel dunia. Hal inilah yang bakal mendongkrak harga nikel, terutama MHP, yang digunakan sebagai material precursor baterai kendaraan listrik.
Prospek Harga Bijih Nikel dan Sentimen Saham Nikel
Pada saat yang sama, Yuanta mencatat, pemerintah berniat membatasi produksi bijih nikel. Ini bakal menjaga harga bijih nikel tetap premium, mencapai US$ 20 per ton.
Tetapi, demikian Yuanta, sampai saat ini, harga nikel masih turun 3%. Namun, saham-saham nikel di BEI masih menarik.
Yuanta memilih saham MBMA sebagai top pick di sektor nikel BEI, karena memiliki risiko dan peluang menarik dan berpotensi terjadi pembalikan kinerja keuangan.
Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) alias Harita Nickel juga menarik, mengingat ditaksir aman saat harga nikel bergerak volatile. Sebab, NCKL adalah salah satu pionir di industri pengolahan nikel Indonesia.
Yuanta masih menyematkan rekomendasi netral saham nikel. Rekomendasi saham MBMA dan adalah buy dengan target harga Rp 750, mencerminkan potensi cuan 40%, sedangkan NCKL buy dan target harga Rp 1.500.
Redaksi Energi Juang News



