Energi Juang News, Jakarta- Belakangan ramai diperbincangkan dexamethasone. Merek obat ini kembali viral setelah disebut-sebut sebagai “obat dewa”.
Dalam sebuah unggahan, dexamethasone dianggap obat dewa lantaran mampu meredakan berbagai keluhan dengan cepat.
Namun ternyata, obat ini bekerja dengan menekan sistem imun sehingga berisiko menimbulkan dampak serius jika digunakan tanpa pengawasan.
Perbincangan kian meluas setelah seorang apoteker @permanaa*** melalui unggahan di Threads mengungkap praktik penyalahgunaan dexamethasone, bahkan hingga dicampurkan ke jamu atau obat warung.
Lalu, bagaimana pandangan pakar farmasi terhadap anggapan dexamethasone sebagai “obat dewa”?
Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Prof Zullies Ikawati menegaskan, penyebutan dexamethasone sebagai “obat dewa” merupakan kekeliruan secara ilmiah.
Dexamethasone bukanlah obat untuk segala penyakit, melainkan obat keras golongan kortikosteroid dengan fungsi yang sangat spesifik, yakni menekan peradangan dan respons imun tubuh. Karena sifat kerjanya yang kuat, obat ini justru harus digunakan secara hati-hati dan terukur.
“Dalam dunia medis tidak ada istilah obat dewa,” ujar Zullies, Kamis (18/12/2025).
“Setiap obat selalu memiliki manfaat sekaligus risiko, termasuk dexamethasone yang hanya boleh digunakan untuk indikasi tertentu dengan pengawasan dokter,” tambahnya.
Zullies menjelaskan, dexamethasone kerap dianggap ampuh karena mampu meredakan gejala dengan cepat. Nyeri berkurang, bengkak mengempis, demam turun, hingga tubuh terasa lebih segar dalam waktu singkat. Efek instan inilah yang membuat banyak orang keliru menilai seolah-olah penyakitnya telah sembuh.
Yang terjadi sebenarnya adalah penekanan gejala, bukan penyembuhan penyebab penyakit,” kata Zullies. Ia menambahkan, pada kasus infeksi misalnya, gejala memang bisa mereda sementara, tetapi kuman tetap berkembang dan bahkan berpotensi makin berbahaya karena daya tahan tubuh ditekan oleh obat.
Penggunaan dexamethasone tanpa resep dan pengawasan medis menyimpan risiko serius yang kerap muncul secara perlahan. Di antaranya penurunan daya tahan tubuh, lonjakan gula darah, peningkatan tekanan darah, gangguan lambung hingga perdarahan, serta pengeroposan tulang dan pengecilan otot.
Jika digunakan dalam jangka panjang lalu dihentikan mendadak, kondisi ini bahkan dapat memicu keadaan darurat yang mengancam nyawa.
“Dexamethasone bukan obat sembarangan. Jangan diminum hanya karena merasa cocok atau katanya manjur,” tegas Zullies. Ia mengingatkan, rasa nyaman sesaat tidak sebanding dengan potensi kerusakan kesehatan jangka panjang. “Tidak semua penyakit bisa diatasi dengan dexamethasone, dan obat ini hanya boleh digunakan dengan resep serta pengawasan dokter,” tandasnya.
Redaksi Energi Juang News



