EnergiJuangNews,Tuban-Jarak Samarinda ke Tuban itu sebenarnya nggak sejauh LDR beda planet. Naik pesawat juga belum tentu sehari semalam. Tapi entah kenapa, sejak Bandi (40) kerja di Kalimantan Timur, pulang ke Tuban rasanya kayak acara tahunan. Bisa enam bulan sekali, bahkan kadang setahun baru kelihatan batang hidungnya.
Idealnya, rumah tangga memang dikendalikan bareng-bareng. Tapi realitanya, banyak suami harus merantau demi cari cuan. Komunikasi cuma lewat layar, kontrol rumah tangga pakai sinyal. Bisa sih, katanya. Buktinya ada pejabat yang katanya bisa ngurus banjir dari luar kota. Entah pakai remote atau doa bersama.
Selama bertahun-tahun kerja di Samarinda, Bandi memang rajin transfer gaji. Nafkah lahir aman. Tapi urusan batin? Nah, ini yang sering dilupakan. Ibarat tanaman, disiram cuma setahun sekali, ya jelas layu. Titin (36) pun mulai terasa hidup sendirian, meski status masih istri sah.
Kondisi ini rupanya terbaca jelas oleh Sugik ,33 (nama samaran), seorang kasun di desa mereka. Dengan insting sosial tingkat dewa, Sugik tahu Titin kesepian. Dan sebagai aparat desa yang “sigap”, ia siap menyalurkan bantuan versi pribadi. Tanpa proposal, tanpa tanda tangan RT.
Bantuan ala Sugik jelas bukan beras, minyak, atau gula. Tapi perhatian plus kehadiran rutin. Dengan alasan tugas desa—dari urusan administrasi sampai basa-basi vaksin—Sugik sering mampir ke rumah Titin,24( nama samaran). Katanya sih demi warga, tapi niatnya kok makin personal.
Suatu malam, jam sudah lewat pukul sembilan, Sugik datang dan tetap disambut ramah. Bukan karpet merah beneran, tapi sambutan hangat khas orang kesepian. Saat anak-anak sudah tidur, obrolan mulai melenceng. Rayuan kelas kasun ternyata lebih ampuh dari seminar motivasi.
Hubungan terlarang itu berjalan mulus, rapi, dan terjadwal. Seminggu sekali, aman katanya. Tapi namanya rahasia kampung, baunya cepat nyebar. Ada warga yang curiga Sugik terlalu rajin “menjenguk”.
Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Bandi. Tanpa banyak drama, ia pulang diam-diam dan melakukan penggerebekan. Benar saja, Sugik tertangkap basah sedang menjalankan “tugas tambahan”-nya.
Sugik sempat mencoba kabur, tapi warga lebih sigap. Ia diamankan dan diserahkan ke polisi. Cibiran pun bermunculan.
“Kasun kok hobinya ngesun bini orang,” celetuk warga.
Cerita perselingkuhan suami merantau ini pun jadi pelajaran: jarak jauh itu bukan cuma soal sinyal, tapi juga soal komitmen. Kalau tidak dijaga, yang dekat bisa kebablasan, yang jauh bisa kecolongan.
Redaksi Energi Juang News



