Rabu, Maret 11, 2026
spot_img
BerandaOjo LaliKisah Malam Pertama Janda Kembang dan Duda

Kisah Malam Pertama Janda Kembang dan Duda

Energi Juang News, Pemalang–Perasaan Mimin sebagai seorang perempuan yang masih menyimpan duka, ketika belum lama ditinggal mati suaminya mendadak ada duda mengajaknya membuka lembar baru. Bukan karena lupa masa lalu, melainkan karena hidup, seperti utang listrik, tetap harus dibayar meski hati sedang redup.

Laki laki itu bernama Bendot (45)duda dari kampung Randu Dongkal,Pemalang, spesialis hidup sederhana dan kopi pahit tanpa gula. Tiga bulan setelah suami Mimin meninggal, orang tua kami yang lebih percaya insting tetangga daripada aplikasi pencari jodoh untuk menjodohkan kami. Katanya, “Daripada kamu dan dia sama-sama bengong tiap malam musim ujan gini, mendingan pake selimut bareng.” Logika tingkat RT yang sebenarnya juga pengen nikah lagi, tapi takut sama istri tuanya.

Mimin sebenarnya masih berduka terlihat kelihatan dari caranya menatap sore, diiringi nyanyian lagu melow mendayu dayu. Tapi hidup di desa punya kebiasaan unik: saatduka diberi waktu, tapi tidak boleh terlalu lama utang pinjol mesti dibayar. Seperti nasi di magic com, kelamaan dianggurin ya basi. Akhirnya, dengan pertimbangan panjang yang melibatkan doa, air mata, dan bisik-bisik tetangga, Mimin setuju untuk kumpul.

Malam itu datang juga. Malam yang katanya “pertama”, padahal secara emosional lebih mirip episode lanjutan dari serial panjang bernama kehidupan. Aku masuk kamar dengan langkah hati-hati, seperti maling sandal yang takut kepergok. Di atas ranjang, Mimin sudah menunggu, berselimut, diam, dan kelihatan tegang. Suasananya seperti mau ujian praktik, bukan pesta.

Acara pernikahan digelar sederhana, meski Bendot yang sudah latihan sejak kemaren di kamar mandi sudah tak tahan nyobain ‘sajian‘ Mimin.Tibalah malam pukul 9 tamu sudah bubar, giliran malam belah duren mengetuk,keburu ngantuk. Otak Bendot sempat nge-freeze tapi karena situasinya campur aduk antara haru, lucu, dan canggung. Mimin lalu berkata pelan, dengan suara yang mirip pengumuman di stasiun, “Mas… yang ini sudah milikmu sekarang. Tapi yang hitam di bawah… dia masih berduka cita.” Kalimat itu Bendot otaknya nge’freeze’ seperti udang dikulkas hitam dan beku.

Bendot terdiam sejenak mikir cara meyakinkan Mimin mau menuruti gejolak sentolopnya yang sudah terlanjur bangun. Otaknya bekerja keras maklum ia diam diam sudah minum obat kuat dan pijit Mak Erot yang terkenal menambah ukuran sentolopnya. Di satu sisi, ada tanggung jawab sebagai suami menafkahi bathin istri. Di sisi lain, ada empati sebagai manusia. Akhirnya Bendot bilang, “Nggak apa-apa, Mimin sayang…. Tunggu sebentar ya.” Nada suaraku sok tenang, padahal jantungku joget dangdut abis.

Bendot ke kamar mandi untuk urusan teknis, tapi buat menenangkan pikiran. Sengaja ia membuka keran air suoaya berisik, dan Bendot mikir cara terbaik pembuktian khasiat Mak Erot. Kita bisa siap secara administrasi, tapi belum tentu siap secara perasaan. Setelah lama dikamar mandi Bendot kembali dengan senyum kaku, mencoba mencairkan suasana. Kalau hidup adalah panggung komedi, malam itu Bendot sadar ia bukan aktor utama, tapi penonton yang ikut ketawa getir.

Apa yang terjadi setelahnya?

Ternyata Bendot tak kalah akal menjawab perkataan Mimin, ia masang sebuah alat teknis warna hitam mengkilat. Dengan keyakinan penuh bilang ke Mimin,” Min…. aku bisa memaklumi perasaanmu, tapi ini yang dibawah naksa ingin menyampaikan duka sedalam dalamnya ke yang hitam dibawah itu”. Karena Bendot ngerayu dengan gencar, akhirnya ia berhasil memecah kebuntuan serangan ke Mimin yang akhirnya berbuah goal. Ajang pembuktian ramuan obat kuat dan pijitan Mak Erot membuat Mimin klepek klepek jungkir balik.

Keesokan paginya, matahari terbit seperti biasa, Bendot keluar dengan senyum senyum. Ayam berkokok, menyapa Bendot dengan riangnya. Tak ubahnya tetangga samping rumah, menyakan keberhasilan strategi Bendot. Dengan isyarat Bendot mengacungkan jempol, sambil berkata lirih,” Guuuriiih”. Beban Bendot terasa sedikit lebih ringan. Seperti tas belanja yang tadinya penuh, lalu dibagi dua. Mereka belajar bahwa kebersamaan bukan soal menutup masa lalu, tapi berjalan berdampingan dengannya.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments