Energi Juang News, Surabaya– Hari itu seharusnya berjalan biasa saja. Tidak ada firasat aneh, tidak ada mimpi buruk, bahkan kopi pagi pun terasa normal. Minul perempuan dewasa yang sedang berusaha bertahan hidup di kota Surabaya dengan cara menjalani profesi yang dipandang negatif di masyarakat. Bangun dengan pikiran sederhana: menjalani hari, pulang, lalu menelepon nenek dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Hidupnya ibarat lemari tua: rapi di luar, penuh rahasia di dalam.
Sampai akhirnya pintu lemari itu dibuka paksa oleh Polisi yang menggerebek tempat kerjanya.
Sore itu, hotel tempatnya berada mendadak berubah suasana. Dari tempat yang biasanya ramai oleh tawa dan musik, menjadi seperti kelas dadakan dengan dosen berseragam. Polisi datang dengan wajah serius, suara tegas, dan instruksi yang tidak bisa ditawar. Kami semua diminta berkumpul, diperiksa, lalu digelandang untuk pendataan. Rasanya seperti ikut lomba yang tidak pernah aku daftarkan, tapi tiba-tiba sudah berdiri di garis start.
Di depan kantor polisi, kami diminta berbaris rapi. Barisan itu panjang, sunyi, dan penuh wajah tegang. Aku berdiri di sana sambil menunduk, berharap dunia mendadak buffering. Namun hidup bukan video streaming; dia terus jalan tanpa peduli kita siap atau tidak. Saat itulah aku melihat sosok yang membuat jantungku hampir copot: nenekku.
Nenek datang dengan langkah pelan tapi pasti, seperti karakter utama yang masuk terlambat tapi langsung mencuri perhatian. Wajahnya penuh rasa ingin tahu, bukan marah. Ia mendekat dan bertanya dengan suara khas yang sejak kecil membuatku tak bisa bohong, “Kenapa kamu berdiri antre di sini, Nul?”
Otakku bekerja keras, lebih cepat dari kalkulator saat ujian matematika. Kalau kejujuran adalah jalan tol, aku sedang mencari jalan tikus. Dengan senyum kaku dan suara terbata, aku menjawab, “Itu… anu, Nek. Polisi lagi bagi-bagi jeruk gratis.” Kalimat itu keluar begitu saja, seperti jawaban asal di kuis berhadiah yang salah total.
Aku berharap nenek mengangguk lalu pulang. Tapi harapan itu runtuh lebih cepat dari bangunan tua kena gempa kecil. Nenek justru tersenyum lebar. “Wah, bagus dong,” katanya ceria. “Nenek ikut antre juga, ya.” Dan sebelum aku sempat mencegah, ia berdiri tepat di belakangku. Rasanya seperti bersembunyi di balik tirai tipis, lalu tirainya ikut berdiri di samping kita.
Perasaanku campur aduk. Malu, panik, takut, dan ingin menghilang sekaligus. Aku membayangkan berbagai skenario terburuk: nenek marah, kecewa, atau lebih parah—diam saja dengan tatapan yang menusuk. Setiap detik terasa panjang, seperti menunggu nasi matang padahal sudah lapar dari tadi.
Pendataan pun dimulai. Polisi memanggil satu per satu, bertanya nama, usia, dan beberapa hal lain dengan nada datar. Suasana tegang tapi sesekali terdengar tawa kecil, mungkin karena absurditas situasi. Ketika giliranku lewat tanpa kejadian besar, aku sedikit lega. Tapi ketenangan itu palsu, karena berikutnya adalah giliran nenek.
Polisi terlihat heran. Dengan sopan tapi bingung, ia bertanya kenapa nenek ikut dalam barisan ini. Nenek menjawab dengan santai, seolah sedang ngobrol di teras rumah. Ia bahkan menambahkan penjelasan dengan gaya polos yang membuat beberapa polisi menahan tawa. Bukan karena isinya yang aneh, tapi karena keberanian dan kepolosannya.
Reaksi spontan pun terjadi. Beberapa polisi tertawa terbahak-bahak, suasana yang tadinya tegang mendadak cair. Nenek langsung tersinggung. “Kok ketawa? Nenek serius,” katanya, lalu menambahkan satu kalimat pamungkas yang membuat semua orang makin tidak bisa menahan diri. “Mana jeruknya?”
Di titik itu, Polisi tidak tahu harus tertawa atau menangis. Berpikir ngeres cara nenek beraksi, dan ternyata si Nenek datang dalam tempat dan situasi yang salah bersama pelacur ysng tak lain Minul cucunya yang berbohong.
Setelah semuanya selesai, nenek menepuk pundak Minul dan berkata pelan, “Lain kali kalau bohong, yang pinter dikit Nul.” Tidak ada amarah, tidak ada ceramah panjang. Hanya kalimat sederhana yang rasanya lebih menampar daripada dimarahi. Saat itu aku sadar, nenek mungkin tidak tahu semuanya, tapi ia tahu cukup banyak untuk mengerti.



