Energi Juang News, Batam- Warga di sejumlah kampung di Kecamatan Sri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, mengeluhkan bau menyengat yang muncul sejak beberapa hari terakhir. Mereka menduga sumber bau tersebut berasal dari tumpahan minyak solar yang mencemari pesisir desa mereka.
Bau Menyengat Ganggu Aktivitas Warga
Kepala Dusun Teluk Sasah, Wahyudi Noramin, menyebut tumpahan tersebut pertama kali ditemukan sekitar lima hari lalu. Hingga kini sisa minyak masih terlihat di pesisir dan menimbulkan aroma tajam yang mengganggu.
Menurutnya, daerah mereka sebenarnya jarang terdampak tumpahan minyak seperti ini. Biasanya, limbah minyak hitam atau sludge oil hanya mencemari kawasan lain seperti Lagoi, Teluk Sebung, atau Sakera.
“Meskipun biasanya ada minyak hitam, daerah kami jarang kena. Tapi sekarang minyaknya seperti solar, baunya kuat sekali,” ujar Wahyudi (06/01/2026).
Kekhawatiran Dampak Kesehatan
Wahyudi menambahkan, beberapa warga mulai mengeluhkan gejala seperti iritasi pada kulit akibat paparan minyak. “Minyaknya berangsur berkurang, tapi baunya masih terasa dan bikin sesak,” katanya.
Ia meminta pemerintah dan aparat terkait segera menyelidiki sumber tumpahan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.
Nelayan Tak Bisa Melaut
Selain mengganggu kehidupan warga, pencemaran ini juga menghantam mata pencaharian para nelayan. Banyak jaring mereka tertutup minyak dan rumput laut menjadi kotor. “Kalau jaring berminyak, ikan menjauh. Nelayan rugi besar,” jelas Wahyudi.
Ia memperkirakan sekitar 60 kepala keluarga terdampak akibat pencemaran ini. Beberapa instansi, seperti dinas lingkungan hidup dan kepolisian, dikabarkan telah datang melakukan pemeriksaan di lokasi.
Belum Ditemukan Sumber Tumpahan
Hingga saat ini, belum ada informasi pasti mengenai asal tumpahan minyak. Area terdampak mencakup Tanjung Taluk, Tanjung Kluwig, Lobam Laut, hingga Anak Lobam. Arus laut membuat lapisan minyak mulai menipis, namun residu dan bau masih tersisa di permukaan air.
Redaksi Energi Juang News



