
Energi Juang News, Ngada– Bendot(49)bukan nama sebenarnya, yang seorang Polisi dengan jabatan Kapolres Ngada dinilai melakukan pelanggaran berat bertindak asusila ke anak dibawah umur terungkap memalukan. Seorang penegak hukum yang seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat, malah nekat menyalurkan ambisi pribadi secara presisi kepada anak perempuan dibawah umur.
Pak Kapolres yang peduli kepada anak perempuan, menutupi perangai aslinya dengan semboyan itu padahal ia lebih peduli pada sentolopnya tak mudah terbongkar.
Dari laporan Polisi perbuatan cabul Bendot yang baru diketahui menimpa 3 orang anak A (6),B (13), dan C (16) tahun yang mirip merek botol kecap. Bukannya terkenal karena kinerja tapi malah Bendot terciduk berbuat cabul ke anak dibawah umur, tentu perbuatan itu langsung viral dan menjadi sorotan secara nasional, tapi juga internasional.
Perbuatannya yang diluar nurul, ditambah merekam dan mengunggah perbuatan bejatnya itu dalam platform daring . Entah haparan cepat viral atau punya penyakit menyimpang video itu kemudian teridentifikasi oleh otoritas di Australia.
Berawal dari pemenuhan kebutuhan sentolop Bendot yang tak menunjang karena penempatan kerja jauh dari rumah,ia terpaksa LDR dengan istrinya. Situasi yang membuat Libido sentolopnya yang terus nagih,membuat ia memakai semboyan dari pada memelihara kambing, lebih baik beli sate Tercetuslah ide untuk beli sate dewasa lewat aplikasi.
Yang unik Bendot doyan hanya dengan anak bocil, mungkin dipikir bisa gratis karena ia seorang Polisi dan relasi kuat ke bawah. Melalui aplikasi ia memilih korban korbannya dan dibawa kehotel setiap memenuhi nafsunya. Setiap ditanya selalu berdalih ia beralasan suka bermain dengan anak perempuan. Padahal Bendot sudah booking hotel untuk korbannya.
Dalam setiap aksi bejatnya,Bendot selalu merekam aksinya menggunakan ponsel pribadi, dan mengirim ke media sosial. Bendot merasa bangga kalau ia habis kencan dengan gadis dibawah umur.
Setelah menggagahi ketiga korbannya, dan video tersebar namun tak satupun berani bersuara apalagi melaporkan kebiadaban sang Kapolres bejat. Pihak hotel yang disewapun tak merasa curiga, meskipun salah satu pegawai hotel sempat memergoki perilaku bejat sang polisi. Dan sekali lagi mereka tak berani melapor.
Tapi sepandai pandai menyimpan bangkai akhirnya tercium juga. Ini berawal dari laporan salah satu orang tua korban ke tujuh Bendot yang masih berumur 6 tahun, memberanikan diri membuat laporan Polisi.
Dan…akhirnya terbongkar jua kelakuan Bendot sang Kapolres bejat, membuatnya kini dipaksa mendekam di dinginnya dinding penjara untuk menunggu proses sidang.
Dalam penyelidikan, ternyata banyak pihak yang berempati kepada korban dan menghujat kelakuan Bendot. Bahkan KOMNAS HAM dan pemerhati kasus kekerasan terhadap anak dari luar negeri. Sekarang nama Bendot makin terkenal, dan semua mengirim salam Bogem Mentah ke Bendot. Tamatlah riwayat karir Bendot hari ini



