Sabtu, April 18, 2026
spot_img
BerandaEkonomi & BisnisHarga Minyak Meninggi, Upaya Tahan Harga BBM Tak Bisa Lama

Harga Minyak Meninggi, Upaya Tahan Harga BBM Tak Bisa Lama

Energi Juang News, Jakarta—Tingginya harga minyak imbas perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang tak kunjung mereda, membuat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berpotensi naik.

Namun, langkah pemerintah menahan kenaikan BBM pada April hingga saat ini diapresiasi.  Demikian menurut Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah.

Dia pun mengatakan, langkah menahan harga tidak naik tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama.

Pasalnya jika harga minyak terus meningkat hingga akhir tahun, pemerintah maupun badan usaha penyalur BBM tak bakal kuat menanggungnya.

“Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik. Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran,” jelas Piter dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (3/4/2026).

Harga Minyak Tembus di Atas Asumsi APBN, Menahan BBM Murah Tak Bisa Terus-menerus

Piter juga mengingatkan kombinasi kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar, serta tekanan fiskal perlu diantisipasi dari sisi stabilitas sistem keuangan. Menurutnya, dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat, koordinasi kebijakan antarotoritas ekonomi menjadi semakin penting.

Baca juga : WFH Kamboja Hemat Ratusan Ribu Liter BBM

“Dalam kondisi seperti ini, koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial. Dunia usaha dan pelaku pasar tentu menunggu sinyal kebijakan dari otoritas seperti Bank Indonesia, OJK, serta Kementerian Keuangan mengenai arah stabilitas sistem keuangan ke depan,” terangnya.

Tekanan Harga Energi, Rupiah Melemah, dan Pentingnya Koordinasi Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan

Saat ini harga minyak telah melebihi asumsi dalam APBN 2026 yang berada di kisaran US$ 70 per barel. Sementara harga pasar saat ini di atas US$ 100 per barel.

Baca juga :  Idul Adha, Komut Dan Dirut Pertamina Pastikan Keamanan Stok

Board of Experts Prasasti yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah menambahkan dengan harga yang tinggi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada di level 4,7% hingga 4,9%.

“Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Halim.

Halim juga menyampaikan dalam skenario harga minyak sekitar US$ 100 per barel dan Rupiah di kisaran Rp 17.000 per dolar, defisit fiskal Indonesia akan melampaui batas defisit sebesar 3%.

“Kami memperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar ke kisaran 3,3-3,5% dari PDB, melampaui batas defisit 3% yang selama ini dijaga pemerintah,” ujarnya.

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments