Energi Juang News,Yogyakarta- Di era ketika musik sering terasa eksklusif—dipisahkan oleh tiket mahal dan venue megah—ada pendekatan lain yang justru membumi. Musik bisa hadir di halaman rumah warga, di antara kandang sapi, atau di lereng gunung. Ia bisa dekat, hangat, dan terasa milik bersama.
Pendekatan seperti ini bukan kebetulan. Ia lahir dari pemikiran panjang tentang bagaimana seni seharusnya hidup di tengah masyarakat, bukan hanya untuk segelintir orang.
Lahir pada 19 Juli 1964, Djaduk Ferianto bukan sekadar musisi. Ia adalah kurator rasa, perancang pengalaman, dan jembatan antara tradisi dan masa kini.
Terlahir dari keluarga seni—anak dari Bagong Kussudiardja—Djaduk sudah akrab dengan dunia kreatif sejak kecil. Ia mulai bermain kendang sejak 1972, lalu mendirikan kelompok musik Rheze yang bahkan sempat menjuarai kompetisi musik humor nasional.
Namun perjalanan Djaduk tidak berhenti di sana. Bersama kakaknya, Butet Kartaredjasa, ia mendirikan Kua Etnika pada 1995—kelompok seni yang dikenal karena eksplorasi musik etnik yang segar dan eksperimental.
Tak lama kemudian, lahir Orkes Sinten Remen yang mengolah keroncong menjadi lebih ringan dan dekat dengan telinga generasi baru.
Karya Djaduk tidak hanya berhenti di Indonesia. Bersama berbagai kelompoknya, ia telah tampil di Jerman, Denmark, Swedia, Belanda, hingga Turki dan Perancis.
Ia juga sempat belajar musik di Jepang dan mengikuti program seni di New York. Di sana, ia banyak terinspirasi oleh street art—seni jalanan yang hidup, dinamis, dan dekat dengan masyarakat.
Pengalaman ini kemudian ia bawa pulang ke Yogyakarta. Ia ingin menciptakan ekosistem seni yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga inklusif.
Salah satu warisan terbesar Djaduk adalah Ngayogjazz, yang ia gagas sejak 2007.
Konsepnya sederhana tapi revolusioner: membawa musik jazz—yang sering dianggap elit—ke tengah masyarakat desa.
Bayangkan ini:
- Musisi jazz internasional tampil di halaman rumah warga
- Penonton duduk lesehan di dekat kandang sapi
- Tidak ada sekat antara panggung dan audiens
Ini bukan sekadar festival musik. Ini adalah pernyataan budaya: bahwa musik adalah milik semua orang.
Selain Ngayogjazz, Djaduk juga terlibat dalam Jazz Gunung Bromo—festival yang menggabungkan keindahan alam dengan eksplorasi bunyi.
Salah satu hal yang paling ditekankan Djaduk adalah regenerasi. Ia percaya bahwa seni tidak akan hidup tanpa keterlibatan anak muda.
Dalam setiap proyeknya, ia selalu membuka ruang bagi talenta baru:
- memberi panggung bagi musisi muda
- mengajak kolaborasi lintas generasi
- menciptakan ekosistem yang suportif
Bagi Djaduk, seni bukan hanya soal karya, tapi juga tentang komunitas.
Menjelang kepergiannya pada 13 November 2019, Djaduk masih aktif bekerja. Bahkan, tiga jam sebelum wafat, ia masih mengikuti rapat persiapan Ngayogjazz.
Ia juga tengah menyiapkan berbagai proyek:
- pementasan “Para Pensiunan 2049”
- rencana tampil di Cape Town Jazz Festival
- komposisi musik kolaborasi yang ia rekam di Puncak Table Mountain
Dedikasi ini menunjukkan satu hal: bagi Djaduk, musik bukan pekerjaan—ia adalah panggilan hidup.
Dari perjalanan Djaduk Ferianto, ada satu pelajaran penting: musik tidak harus megah untuk bermakna.
Ia bisa hadir:
- di desa kecil
- di panggung sederhana
- di antara orang-orang biasa
Dan justru di situlah ia menjadi paling jujur.
Bagi generasi muda, warisan Djaduk adalah pengingat bahwa kreativitas tidak harus mengikuti arus. Kita bisa menciptakan ruang sendiri—yang lebih inklusif, lebih manusiawi, dan lebih relevan.
Musik Djaduk Ferianto dan warisan Ngayogjazz bukan hanya tentang bunyi, tetapi tentang cara berpikir. Tentang bagaimana seni bisa menjadi alat untuk menyatukan, bukan memisahkan.
Meski sosoknya telah tiada, semangatnya tetap hidup—di setiap panggung desa, di setiap nada yang dimainkan anak muda, dan di setiap upaya untuk menjaga musik tetap dekat dengan manusia.
Karena pada akhirnya, musik terbaik bukan yang paling keras terdengar—melainkan yang paling dalam terasa.
Redaksi Energi Juang News



