Energi Juang News, Jakarta- Sebuah kapal tanker minyak milik perusahaan China dilaporkan mengalami serangan di sekitar Selat Hormuz saat konflik di kawasan Timur Tengah terus memanas. Pemerintah China memastikan terdapat warga negaranya di atas kapal tersebut dan hingga kini belum ada laporan korban jiwa.
Insiden itu terjadi ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung. Jalur Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu titik strategis perdagangan energi dunia.
China Konfirmasi Ada ABK Warganya di Kapal
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, membenarkan adanya serangan terhadap kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall yang dimiliki perusahaan China tersebut. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers rutin di Beijing, Jumat (8/5/2026).
Lin mengatakan sejumlah anak buah kapal berkewarganegaraan China berada di dalam kapal saat insiden terjadi. Namun, ia tidak merinci jumlah awak yang terlibat.
“Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa,” ujar Lin.
Sebelumnya, media China, Caixin, melaporkan kapal tanker produk minyak milik China diserang pada Senin (4/5) waktu setempat di dekat Selat Hormuz. Dalam laporan itu disebutkan bagian dek kapal terbakar dan terdapat tulisan “CHINA OWNER & CREW” pada badan kapal.
Menurut sumber yang mengetahui insiden tersebut, ini menjadi laporan pertama yang melibatkan kapal tanker minyak China sejak perang di kawasan itu pecah pada akhir Februari lalu.
Diduga Kapal JV Innovation
Sejumlah sumber keamanan maritim menyebut kapal yang terkena serangan diyakini bernama JV Innovation. Kapal itu sempat mengirim laporan kebakaran di area dek kepada kapal lain di sekitarnya.
Insiden tersebut terjadi di dekat Mina Saqr, lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melintasi kawasan tersebut.
Namun, lalu lintas pelayaran di wilayah itu terganggu sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Sumber Serangan Belum Diketahui
Kepala teknisi kapal, Liu Haining, mengatakan penyebab serangan masih belum bisa dipastikan. Ia turun dari kapal sekitar sepekan lalu dalam pergantian awak rutin.
“Pada tahap ini, tidak ada cara memastikan siapa yang menyerang,” kata Liu kepada abc.net.au.
Ia menduga serangan kemungkinan berasal dari peluru artileri atau drone, bukan rudal. Meski begitu, hingga kini belum ada kepastian mengenai jenis serangan yang digunakan.
Liu juga menyebut kapal tanker tersebut tetap beroperasi setelah insiden terjadi. Menurut dia, awak kapal tidak menduga bakal menjadi sasaran karena kapal saat itu sedang tidak bergerak.
Redaksi Energi Juang News



