Energi Juang News, Kediri- Pengen nyicipin ‘apem’ yang ‘anget-anget empuk’ tapi gak punya modal, itu bukan hal yang sulit buat Bendot(45). Pura-pura aja jadi dukun, pasti bakal ada pasien dari kalangan kaum hawa yang datang berkonsultasi. Setelah itu tinggal atur strategi yang jitu agar bagaimana mengutip acara music Koes Hendratmo, si pasien wanita bisa diajak ‘ berpacu dalam birahi ‘
Sebagai dukun beraliran cabul, Bendot dalam menjalankan profesinya justru tidak berpedoman pada kaidah agama dan tatanan moral, semisal menjaga jarak dan menghindari sentuhan fisik dengan lawan jenis.
Kalo ilmu dari ustadz di masjid bilang jaga jarak dengan bukan muhrim dan mencegah sentuhan fisik, tapi ilmu dari Bendot adalah mandi kembang terlebih dulu, untuk selanjutnya melakukan yang asyik-asyik melalui sentuhan fisik.
Adalah Juminten, ibu muda yang kepengen usahanya sebagai pedagang bisa ‘ Laris Manis Tanjung Kimpul, Dagangan Habis Duit Kumpul’ nyari orang yang bisa bantu mewujudkan keinginannya.
Setelah mencari info sana sini, didapatlah nama Bendot, dukun yang katanya super manjur. Berharap besar bahwa di tangan Bendot semua urusan lancar, Juminten pun manut atas prosesi dan prosedur pengobatan yang standar dan prosedur-nya telah sang dukun tetapkan.
Prosesi pertama yang harus dijalani Juminten adalah mandi air kembang dengan cara dimandikan oleh Bendot sendiri. Pada ritual mandi kembang itu, tubuh Juminten masih dibalut selembar kain. Nah ni die, begitu melihat lekuk tubuh Juminten yang tembus pandang karena kain yang basah mengundang selera memagut rasa, kerongkongan Bendot mulai cekot-cekot dan kepalanya cenut-cenut.
Akal bulus agar tujuannya berjalan mulus, dilanjutkan Bendot dengan ucapan, bahwa supaya air kembang lebih meresap ke dalam tubuh, kain yang membalut tubuh Juminten harus dilepas. Dengan berpikir sederhana, gak apa-apalah sekedar memberi ‘pemandangan’ indah kepada si dukun, Juminten pun melepas kain yang membalut tubuh sintalnya.
Dan ketika tubuh Juminten sudah polos tanpa sehelai benang pun, ‘sentolop’ Bendot mulai berontak, yang tadinya kecil jadi ngacung untuk nagih.
Cukup dengan hanya maju satu langkah, Bendot sudah bisa memeluk Juminten dengan leluasa. Ketika Juminten memberontak berusaha melepas pelukan, Bendot cukup membisikkan satu kalimat ke telinga Juminten: ” Supaya misi ini berhasil, kita harus menyatukan jiwa raga kita.”
Sudah mandi basah dan benar-benar sudah terlanjur basah membuat Juminten pasrah saat Bendot memanjakan sentolopnya..
Lama menunggu apa yang diharapkan tak menjadi kenyataan, dagangan yang dijualnya tak juga laris manis, mulailah membuat Juminten curiga. Juminten yang sudah menyerahkan tubuhnya mentah-mentah, ternyata ditipu mentah-mentah pula oleh Bendot. Malu gak malu, kasus dukun cabul ini akhirnya dilaporkan ke Polisi.
Hasil pemeriksaan polisi, ternyata ada lagi tiga wanita lainnya yang ikut menjadi korban dukun cabul Bendot. Karena melihat warga yang geram ulah sang dukun cabul Polisi langsung meredam, dan bilang kalau Bendot si dukun cabul ini tengah diperiksa intensif, Masyarakat harap bersabar jangan main hakim sendiri.
Bendot yang sempat ‘berdingin-dingin empuk ‘ mandi bareng Juminten kini harus merasakan dingginnya terali besi penjara.
Redaksi energi Juang News



