Selasa, Agustus 4, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaTrend Tenun: Antara Gengsi, Gaya, dan Ancaman Klaim

Trend Tenun: Antara Gengsi, Gaya, dan Ancaman Klaim

Pernahkah kita membayangkan kain tenun Indonesia melenggang santai di mal, menemani anak muda nongkrong di kafe, atau menjadi andalan untuk hangout akhir pekan? Bukan sebagai pakaian adat yang kaku, melainkan sebagai bagian dari identitas gaya sehari-hari.

Ini bukan mimpi, melainkan sebuah keniscayaan yang harus kita perjuangkan bersama. Kain tenun Indonesia tengah berada di titik krusial: antara tetap eksis sebagai warisan atau sekadar menjadi artefak museum karena “terlalu sakral” untuk dipakai santai.

Ironis memang. Di satu sisi, gaung kecintaan terhadap wastra terus bergema melalui peragaan busana dan perlombaan. Kain tenun pun sering tampil memukau di atas panggung. Namun, di sisi lain, bayangan “tenun hanya untuk acara adat” masih membatasi geraknya. Akibatnya, banyak lembar kain indah hanya sesekali dikeluarkan dari lemari, lalu kembali tersimpan rapi.

Padahal, menurut Kementerian Perindustrian, tenun memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk fesyen yang digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari, bukan hanya acara formal dan tradisional . Jika hanya dibiarkan, bukankah kita yang sedang menyiapkan tenun menjadi barang antik yang dipajang?

Sebenarnya, angin segar mulai berembus. Banyak anak muda kini mulai melirik tenun, bukan karena terpaksa, melainkan karena ingin tampil beda. Ketika tren fesyen global mengarah pada pakaian effortless yang nyaman dan santai, tenun memiliki peluang emas untuk merangkul generasi ini.

Kain tenun tidak harus kaku; jika dipadukan dengan potongan modern seperti kemeja kasual, rok midi, atau bahkan tas dan aksesori, tenun bisa menjadi pilihan utama untuk tampil gaya tanpa kehilangan akar budaya . Tren positif ini bahkan mulai terlihat, di mana banyak orang memamerkan tenun di media sosial sebagai bagian dari gaya sehari-hari mereka .

Baca juga :  [BREAKING NEWS] Tabrakan Maut di Tol Cisumdawu: Travel dan Truk Bertabrakan, Tiga Orang Tewas di Tempat

Tantangannya bukan hanya dari dalam negeri. Cerita pahit pernah terjadi ketika Malaysia mendahului kita mendaftarkan songket ke UNESCO, yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Sumatera Selatan. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa pelindungan wastra tak bisa hanya berupa kebanggaan lisan.

Pengakuan resmi, seperti dari UNESCO, menjadi penting agar tidak ada pihak lain yang mengklaimnya. Sayangnya, hingga saat ini, status Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk kain tenun Indonesia secara nasional belum juga terwujud, meskipun beberapa jenis tenun seperti ikat Sumba sudah didata . Ini adalah alarm bahwa kita tidak boleh lengah.

Lantas, bagaimana solusinya? Jawabannya adalah transformasi. Kolaborasi antara perajin, pemerintah, dan desainer menjadi kunci . Perajin didampingi untuk berinovasi dalam desain dan diversifikasi produk, seperti yang dilakukan Kemenperin bersama Dekranasda dan Universitas Ciputra di Kediri, di mana IKM tenun dipasangkan dengan IKM fesyen untuk menciptakan produk-produk kreatif seperti pakaian jadi, tas, hingga alas kaki berbasis tenun . Edukasi kepada generasi muda juga penting, mengajarkan bahwa mengenakan tenun adalah bentuk apresiasi dan kebanggaan, bukan sekadar kewajiban adat .

Bayangkan sebuah Indonesia di mana pemuda di Jakarta dan pemudi di Bali sama-sama bangga mengenakan tenun rancangan desainer lokal ke kantor. Bayangkan para pelancong mancanegara memburu tenun sebagai oleh-oleh khas yang tak ternilai, sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi perajin di pelosok negeri . Inilah wujud nyata pelindungan dan pemanfaatan wastra Indonesia.

Bukan menjadikannya beku dalam kotak kaca, melainkan menghidupkannya dalam denyut nadi fesyen modern. Jika kita berhasil, kain tenun akan melampaui statusnya sebagai warisan leluhur dan menjadi kebanggaan generasi masa kini, sebuah simbol bahwa budaya dan gaya bisa berjalan beriringan. Ini adalah tugas kita bersama, menjaga agar tenun tak hanya “bertahan”, tetapi juga “bertakhta” di hati anak muda.

Baca juga :  Purbaya Effect: Gebrakan atau Guncangan?

Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments