Energi Juang News, Jakarta – Kandidat presiden Brasil yang kalah, Flávio Bolsonaro, beserta keluarganya telah tiba di Miami, Amerika Serikat (AS) hari Rabu (28/10/2026) pagi waktu setempat setelah meninggalkan negara mereka. Melansir kantor berita AP, kedatangan mereka terjadi sehari setelah mereka diberikan visa Amerika Serikat oleh pemerintahan Trump. Dalam video yang ditayangkan AP, Bolsonaro turun dari pesawat bersama keluarganya.
Keberangkatannya hanya 48 jam setelah Bolsonaro menolak kekalahannya dari Presiden Terpilih Brazil Lula da Silva. Ayah Flavio yang juga mantan Presiden Brazil, Jair Bolsonaro juga telah terbang ke Florida setelah kekalahannya dari Lula da Silva tahun 2022 sebelum akhirnya kembali ke Brazil tiga bulan kemudian.
Menurut G1 yang dimiliki Grup Globo, kepergian Bolsonaro ke AS dalam sebuah operasi rahasia. Flávio Bolsonaro melanggar perintah Mahkamah Agung Federal (STF) untuk menyerahkan paspornya. Menurut sejumlah sumber, ia memasuki Argentina melalui jalur darat, kemudian menaiki pesawat pribadi yang terbang menghindari wilayah udara Brasil dan sempat singgah di Ekuador.
Flavio Gunakan Paspor Italia
Pesawat yang membawa keluarga tersebut adalah jet pribadi jenis Gulfstream G400, yang mendarat di Bandara Eksekutif Opa-locka di Miami. Hingga pembaruan terakhir laporan ini, belum ada informasi mengenai siapa pemilik pesawat tersebut. Flávio Bolsonaro juga belum memberikan komentar apa pun terkait kepergiannya tersebut.
Mengutip Metropoles, salah media besar di Brazil, sejumlah akun berpengaruh di platform X mengunggah sebuah dokumen penerbangan yang menunjukkan bahwa Flávio Bolsonaro menggunakan paspor Italia untuk meninggalkan Brasil setelah pemilihan umum, dan keluarganya turut serta bersamanya menuju Argentina.
Daftar penumpang untuk penerbangan pribadi tersebut mencantumkan kewarganegaraan Flávio Bolsonaro sebagai warga negara Italia, sementara istrinya, Fernanda, dan kedua putri mereka tercatat sebagai warga negara Brasil. Flávio telah memiliki kewarganegaraan Italia sejak tahun 2023.
Dokumen tersebut memperlihatkan penerbangan yang bertolak dari Brasil pada tanggal 27 Oktober—sehari setelah kekalahannya dalam pemilihan umum—serta memuat cap imigrasi Argentina tertanggal 28 Oktober. Ini bukan sekadar kepergian biasa, mereka harus melakukan berbagai tindakan pencegahan




