Energi Juang News, Jakarta- Temuan dapur MBG yang berdiri persis di sebelah kandang babi, membuat tensi darah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, langsung mendidih.
Baru-baru ini, jagat politik dan kuliner tanah air diguncang oleh sebuah penemuan yang tidak hanya mengocok perut, berupa inovasi menu baru dengan aroma terapi ekstrem.
Melihat pemandangan ajaib ini, Kepala BGN langsung meradang. “Ini gila! Ini enggak bisa diteruskan!” ujarnya dengan urat leher yang nyaris putus.
Beliau menyebutnya sebagai salah satu bentuk “demonstrasi kebodohan” paling mutakhir abad ini.
Bagaimana mungkin, sebuah program nasional yang dirancang untuk mencerdaskan anak bangsa lewat makanan sehat, justru dimasak berdampingan dengan hewan yang terkenal dengan hobi magernya di kubangan?
Selain dapur beraroma peternakan, ditemukan juga dapur SPPG di bawah sarang burung walet.
Sungguh sebuah kemewahan yang salah tempat.
Alih-alih mendapatkan sup sarang walet premium, para koki justru harus memakai helm proyek agar masakan mereka tidak ketiban “keberuntungan” jatuh dari langit yang diproduksi langsung oleh burung-burung di atasnya.
Emosi Kepala BGN makin meledak ketika membongkar urusan dapur yang sudah ditutup karena bikin orang keracunan, tapi tetap diguyur dana Rp6 juta per hari.
Ini bukan lagi program gizi, ini sih program “Pesugihan Legal”
Menjaga gizi anak bangsa itu harus pakai hati nurani, bukan pakai konsep cross-contamination dengan kandang hewan!
Redaksi Energi Juang News




