Energi Juang News,Jakarta- Urusan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang proyeknya kedengaran mentereng, tapi di lapangan malah jadi Klinik.
Inilah yang bikin mumet bin pusing tujuh keliling jagat perpolitikan dan ekonomi kita,
Kabarnya sampai Rp240 triliun dari APBN dan utang bank dikucurin buat bikin bangunan Kopdes gede-gedean di desa,bukannya jadi pahlawan malah jadi “kanibal” yang hobi mencaplok warung-warung cilik di kampung.
Nah, gara-gara gedung udah telanjur dibangun gede-gede tapi bingung mau diisi apa, orang-orang pusat di Kementerian Kesehatan langsung dapet ide kreatif.
“Gimana kalau diubah jadi klinik pratama aja?” Daripada malah bikin mumet bin pusing tujuh keliling.
Tapi kata pengamat ekonomi dari Celios, Mas Bhima Yudhistira, program ini bukannya jadi pahlawan, malah jadi “kanibal” yang hobi mencaplok warung-warung cilik di kampung.
Kata Mas Bhima, mending itu duit dibagikan ke 3,9 juta warung, satu warung dapet Rp61,5 juta, kan lumayan buat nambah modal daripada bikin gedung gede tapi kosong.
Belum lagi anggaran desa kepotong, jalanan rusak gak dibetulin, sampai guru TK di desa gak gajian gara-gara dananya kesedot ke proyek ini.
Nah, gara-gara gedung udah telanjur dibangun gede-gede tapi bingung mau diisi apa, Lewat video medsosnya, dr. Tirta langsung menyemburkan sindiran maut pakai bahasa Jawa: “Koe mumet toh? Jenengan-jenengan semua tuh pusing kan ini Kopdes diapain, makanya tercetus jadi klinik pratama?
kalau emang niatnya buat kesehatan rakyat, kenapa gak dari dulu aja Puskesmas di daerah pelosok (3T) yang dibagusin?
Kenapa nunggu gedungnya telanjur jadi pajangan baru sibuk dialihfungsikan?
Daripada mubazir, mending dijadiin tempat olahraga kalistenik biar pemuda desa pada kekar, lapangan olahraga, atau sekalian bikin pos ronda, kantin, sampai tempat arisan dan ngerumpi ibu-ibu PKK!
Gara-gara proyek super ambisius yang dipaksakan dan terburu-buru ini, Celios memproyeksikan potensi kerugian akibat gagal bayar Kopdes bisa mencapai Rp7 triliun di tahun pertama, dan membengkak jadi Rp28 triliun di tahun keenam!
Ujung-ujungnya, kalau gagal bayar, beban ekonomi negara makin berat dan rakyat lagi yang nanggung.
Pengamat sampai mengingatkan, jangan sampai proyek ini bernasib sama seperti KUD jaman Orde Baru yang langsung kolaps begitu bantuan negara dicabut.
Kreatif sekaligus bikin ngenes, kan?
Redaksi Energi Juang News




