Energi Juang News,Bandung- Jadi warga Indonesia disuguhin menu birokrasi berlapis kayak lapis legit OJK yang bikin mumet, giliran gerombolan pinjol ilegal malah bebas berkeliaran kayak gak punya beban aturan.
Kalau iklimnya begini terus, lama-lama pengusaha resmi bisa frustrasi dan mikir: “Ngapain bisnis bener kalau ribet? Mending buka lapak gaib sekalian, gak dikejar-kejar orang Ditjen Pajak!”
Kalau ekonomi hitam yang menang, modal internasional mana mau datang!
Kerusakan ekonomi di masyarakat, khususnya di Jawa Barat, juga dipicu oleh kehadiran kelas menengah manipulatif.
Mereka adalah para oknum calo yang pintar meyakinkan perbankan dengan menggunakan proposal atas nama kelompok tani, nelayan, atau pengrajin demi mencairkan kredit UMKM bernilai miliaran rupiah.
Begitu cair, duitnya dimakan sendiri sama si calo, sedangkan rakyat kecil cuma dilemparin recehan. Pas banknya nagih karena kredit macet, si calo udah hilang ditelan bumi, meninggalkan masyarakat dengan status “korban manipulasi”.
Sebenarnya, rakyat Indonesia itu pada dasarnya kreatif dan pinter cari duit.
Yang nganggur aja bisa punya duit cuma modal berdiri di perempatan modal peluit “prit-prit” dapat dua ribu.
Jadi, pemerintah gak usah ribet ngajarin rakyat cara cari duit.
Tugas negara itu cuma dua yang paling penting:
1. Jangan sampai hasil kerja keras puluhan tahun habis dalam semalam cuma buat nebus biaya rumah sakit.
2. Jangan sampai demi bayar uang sekolah anak yang jutaan, orang tua harus rela jual sawah dan warisan kebun.
Kalau dua urusan mendasar ini beres dijamin oleh negara, rakyat bisa fokus kerja dengan tenang tanpa perlu pusing mikirin gali lubang tutup lubang ke bank emok.
Redaksi Energi Juang News