Rabu, Mei 27, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 53

Park Ji Hoon Umumkan Lokasi Konser “RE:FLECT” di Asia

Energi Juang News, Seoul- Penyanyi sekaligus aktor Park Ji Hoon mengumumkan lokasi pelaksanaan jumpa penggemar dan konser “RE:FLECT” di Asia pada 2026.

Menurut siaran Soompi pada Sabtu (18/3), Ji Hoon akan memulai tur di Tokyo, Jepang, pada 23 Mei 2026.

Selanjutnya, dia akan tampil di Seoul (Korea Selatan), Kuala Lumpur (Malaysia), Ho Chi Minh dan Hanoi (Vietnam), Bangkok (Thailand), dan Singapura.

Park Ji Hoon sebelumnya merupakan anggota grup musik Wanna One, tetapi kemudian aktif sebagai penyanyi solo dan aktor.

Ia akan merilis single album RE:FLECT pada 29 April 2026.

Aktor yang antara lain berperan dalam serial drama “Weak Hero Class 1” dan “Weak Hero Class 2” serta film “Audrey” dan “The King’s Warden” itu juga berperan dalam serial drama “The Legend of Kitchen Soldier” yang dijadwalkan ditayangkan pada 11 Mei 2026.

 

Redaksi Energi Juang News

Kalah Dua Kali, Persita Tangerang Lakukan Evaluasi

Energi Juang News, Jakarta- Pelatih Persita Tangerang Carlos Pena melakukan evaluasi dari dua laga terakhir timnya yang berakhir dengan kekalahan. Laga terakhir digelar menjelang laga pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026 melawan Persik Kediri di Stadion Brawijaya pada Minggu sore pukul 15.30 WIB.

Dalam dua laga terakhir, Persita takluk dari dua tim asal Jawa Timur, yaitu Persebaya Surabaya dan Arema FC, dengan masing-masing skor 0-1.

“Kami berlatih dengan keras selama sepekan untuk meningkatkan hal yang harus ditingkatkan dari dua pertandingan terakhir,” kata Pena, dikutip dari laman resmi I.League, Minggu.

Dua tim tiba di laga ini dengan sama-sama mengincar kemenangan setelah keduanya sama-sama sedang dalam tren negatif. Jika Persita selalu kalah dalam dua laga terakhirnya, Persik sudah tak menang dalam tiga laga terakhir.

Tak hanya itu, hal menarik di laga ini adalah akan mempertemukan dua pelatih asal Spanyol, dimana Pena akan menghadapi Marcos Reina yang merupakan pelatih Persik.

“Sepak bola adalah tentang para pemain, bukan pelatih. Tentu kami masing-masing memiliki gaya melatih yang berbeda,” ucap Pena, mantan pelatih Persija Jakarta itu.

“Marcos (Reina) akan memainkan gaya bermain dengan pemain yang ia miliki. Saya juga harus memaksimalkan kualitas pemain yang kita miliki,” tambah dia.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama bek Tamirlan Kozubaev menyebutkan bahwa di laga nanti Pendekar Cisadane membutuhkan kemenangan usai kehilangan poin di dua laga terakhir.

“Setelah dua kekalahan beruntun kami datang ke sini untuk memperbaiki hasil. Dan ini akan menjadi laga penting bagi kami,” ujar bek asal Kirgistan tersebut.

Dalam tujuh pertemuan terakhir kedua tim, Persita mampu meraih tiga kemenangan, sementara Persik dua kemenangan, dengan dua laga lain berakhir imbang. Di pertemuan pertama musim ini di Indomilk Arena, Persita mampu memetik kemenangan dengan skor 3-0.

Saat ini, Persita ada di peringkat ketujuh dengan 41 poin, sementara Persik ada di peringkat 12 dengan 30 poin.

Redaksi Energi Juang News

UI Tegaskan Kegiatan Mahasiswa Non-Profit Gratis

Energi Juang News, Jakarta- Universitas Indonesia (UI) menegaskan seluruh kegiatan mahasiswa yang bersifat non-profit tidak dikenakan tarif sewa alias gratis. Kebijakan ini didorong guna mendukung kegiatan yang berorientasi pada pengembangan akademik dan kemahasiswaan.

“Ketentuan tersebut diatur secara eksplisit dalam Lampiran II huruf B angka 2 Keputusan Rektor Nomor 105/SK/R/UI/2026,” kata Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah dan Internasional Erwin Agustian Panigoro dalam keterangannya di Depok, Jawa Barat, Minggu.

Kebijakan tersebut, kata dia, juga sejalan dengan ketentuan Pasal 51 ayat (1) huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2021 tentang Statuta Universitas Indonesia, yang menjamin hak mahasiswa untuk memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan dalam penyelenggaraan kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Dengan demikian, lanjutnya, berbagai aktivitas mahasiswa seperti pertunjukan seni, kegiatan olahraga, diskusi, maupun kegiatan pengembangan minat dan bakat lainnya yang bersifat non-komersial dapat memanfaatkan fasilitas kampus tanpa dikenakan biaya sewa.

Keputusan Rektor UI Nomor 105/SK/R/UI/2026 menetapkan standar tarif dan pedoman sewa ruangan, gedung, serta area terbuka, sebagai bagian dari upaya optimalisasi pengelolaan aset kampus.

Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat kemandirian keuangan institusi melalui pembukaan sumber pendapatan di luar APBN, dengan tetap menempatkan fasilitas kampus sebagai aset strategis yang berfungsi utama mendukung kegiatan akademik.

Pemanfaatan fasilitas dilakukan secara produktif dan bernilai ekonomi tanpa mengesampingkan peran utama universitas sebagai ruang pendidikan.

Selain pengaturan tarif, keputusan tersebut juga mengatur mekanisme pemanfaatan fasilitas. Setiap penggunaan wajib melalui perjanjian resmi atau perizinan dari unit pengelola dengan mempertimbangkan ketersediaan fasilitas serta kesesuaian kegiatan dengan norma institusi.

Kegiatan yang mengandung unsur SARA, politik praktis, kekerasan, pornografi, atau yang berpotensi merusak reputasi institusi tidak diperkenankan. Seluruh pengguna diwajibkan mematuhi ketentuan serta membayar tarif sesuai standar yang ditetapkan apabila kegiatan bersifat komersial.

Secara keseluruhan kebijakan ini menjadi pedoman dalam mewujudkan pengelolaan fasilitas kampus yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel, kata dia, sekaligus menegaskan keberpihakan UI terhadap mahasiswa melalui pembebasan tarif untuk kegiatan non-profit, tanpa mengabaikan upaya peningkatan pendapatan institusi dan fungsi utama universitas sebagai penyelenggara pendidikan tinggi.

 

Redaksi Energi Juang News

BNI Tegaskan Pengembalian Dana Paroki Aek Nabara Tuntas Pekan Ini

Energi Juang News, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk menargetkan pengembalian dana nasabah BNI anggota Credit Union (CU) Paroki di Aek Nabara, Sumatera Utara, yang menjadi korban penyimpangan dana sekitar Rp28 miliar dapat diselesaikan pekan ini.

Direktur Human Capital and Compliance BNI Munadi Herlambang mengatakan penyelesaian dilakukan berdasarkan perkembangan penyidikan aparat penegak hukum yang telah memberikan kejelasan nilai kerugian.

“Penyelesaian akan kami lakukan dalam jangka waktu minggu ini. Kita berproses dan dipastikan minggu ini, Senin sampai Jumat di hari kerja akan kita kembalikan,” kata Munadi dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Minggu.

Tahap Pengembalian Dana

Ia menjelaskan BNI telah melakukan pengembalian dana tahap awal sebesar Rp7 miliar sebagai bentuk itikad baik kepada nasabah.

Menurut dia, proses pengembalian sisa dana dilakukan dengan mengedepankan prinsip transparan, terukur, dan akuntabel agar memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak.

Munadi mengatakan dasar penyelesaian mengacu pada hasil penyelidikan aparat penegak hukum yang menjadi landasan objektif dalam menentukan nilai kerugian.

Ia menambahkan mekanisme pengembalian dana akan dituangkan dalam perjanjian hukum yang disepakati kedua belah pihak.

Ulah Oknum Internal

Kasus tersebut, lanjut dia, pertama kali terungkap pada Februari 2026 melalui hasil pengawasan internal BNI.
Munadi menegaskan peristiwa itu merupakan tindakan oknum individu yang melakukan transaksi di luar sistem, di luar kewenangan, dan di luar prosedur resmi perbankan.

“Produk yang digunakan dalam kasus ini bukan merupakan produk resmi BNI dan tidak tercatat dalam sistem operasional Bank BNI,” ujarnya.

Ia juga memastikan seluruh dana nasabah yang tersimpan dalam produk resmi BNI tetap aman dan tidak terdampak oleh peristiwa tersebut.

Direktur Network and Retail Funding BNI Rian Eriana Kaslan menambahkan pihaknya akan terus mengawal proses penyelesaian hingga tuntas.
BNI juga, lanjut dia, memperkuat sistem pengawasan internal serta meningkatkan edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat.

“Produk yang digunakan dalam kasus ini bukan merupakan produk resmi BNI dan tidak tercatat dalam sistem operasional Bank BNI,” ujarnya.

Ia juga memastikan seluruh dana nasabah yang tersimpan dalam produk resmi BNI tetap aman dan tidak terdampak oleh peristiwa tersebut.

Direktur Network and Retail Funding BNI Rian Eriana Kaslan menambahkan pihaknya akan terus mengawal proses penyelesaian hingga tuntas.
BNI juga, lanjut dia, memperkuat sistem pengawasan internal serta meningkatkan edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk semakin meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap penawaran investasi yang tidak melalui kanal resmi perbankan,” ucap Rian.

Instruksi Tegas OJK

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta BNI segera menuntaskan penyelesaian kasus yang dialami nasabah di BNI Kantor Cabang Pembantu Aek Nabara, Sumatera Utara.

OJK juga menyatakan telah memanggil direksi dan manajemen BNI untuk meminta penjelasan serta menegaskan agar langkah penyelesaian dilakukan secara cepat, menyeluruh, transparan, dan bertanggung jawab.

OJK kemudian meminta bank tersebut melakukan investigasi internal secara menyeluruh, termasuk pendalaman atas aspek kepatuhan, pengendalian internal, dan tata kelola.

Redaksi Energi Juang News

Istana Ambyar, Suami Pilih Cinta, Dolar, dan Dosa

rumah dirobohkan_ilustrasi
rumah dirobohkan_ilustrasi

Energi Juang News, Madiun – Perselingkuhan Poniran, Di negeri yang katanya subur makmur gemah ripah loh jinawi, ada satu hukum tak tertulis yang lebih sakral dari janji pernikahan: kalau saldo aman, cinta ikut nyaman. Tapi kalau saldo hasil kiriman istri malah dipakai buat “investasi perasaan” ke wanita lain, ya siap-siap saja… rumah bisa berubah jadi puing, cinta jadi arang.

Inilah kisah Poniran (37), pria serabutan dengan bakat luar biasa dalam mengelola… bukan keuangan, tapi kesempatan. Ia menikahi Peni (25), mantan TKW yang hatinya selembut transferan bulanan: rutin, tepat waktu, dan jumlahnya bikin tetangga iri.

Awalnya, kehidupan mereka seperti sinetron religi awal Ramadan: sederhana, penuh harapan, dan sedikit drama. Peni, dengan tekad baja, kembali merantau ke luar negeri. Tujuannya mulia: membangun “istana kecil” di atas tanah warisan Poniran di Kertosono. Bukan sekadar rumah, tapi simbol cinta jarak jauh yang dibayar dengan keringat dan rindu.

Selama 15 tahun pernikahan, 10 tahun di antaranya Peni habiskan di negeri orang. Sementara itu, Poniran di kampung menjalani peran sebagai “penjaga aset”—meski ternyata lebih cocok disebut “penikmat aset wanita lain.”

Awalnya semua tampak baik-baik saja. Uang mengalir, bangunan berdiri, dan warga mulai berbisik, “Wah, rezeki Poniran lancar juga ya.” Tapi mereka belum tahu, yang lancar bukan cuma rezeki… tapi juga niat selingkuh dengan WIL.

Masalah klasik pun muncul: kebutuhan batin. Poniran merasa hubungan jarak jauh dengan sistem SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) tak cukup memuaskannya. Video call tak bisa menggantikan “kehangatan nyata”, katanya—meski yang hangat ternyata bukan cuma perasaan, tapi juga kamar hotel.

Datanglah Minthul teman lama Poniran saat SMA, yang muncul kembali di acara reuni. Reuni yang seharusnya jadi ajang nostalgia, malah berubah jadi awal bencana rumah tangga.

“Dulu kamu beda, Niran… sekarang lebih… menggoda,” kata Minthul sambil senyum tipis, konon begitu menurut gosip warga.

Poniran, yang mungkin lupa statusnya sebagai suami orang, langsung upgrade hubungan mereka dari “teman lama” menjadi Wanita Idaman Lain (WIL).

Padahal, Minthul sendiri sudah berkeluarga. Tapi entah karena bosan, kecewa, atau sekadar ingin variasi, ia memilih membuka “cabang rasa” di luar rumah. Dua insan yang sama-sama tahu batas, justru kompak melanggarnya.

Sejak saat itu, setiap kiriman uang dari Peni tak lagi murni untuk semen dan batu bata. Sebagiannya “dialokasikan” untuk check-in hotel bersama Minthul. Kalau di laporan keuangan mungkin tertulis:
“Pengeluaran tak terduga: kebutuhan biologis darurat.” yang dikeluarkan Poniran.

Lama-lama, aroma perselingkuhan dengan Minthul itu tak bisa lagi ditutupi. Warga mulai curiga. Di warung kopi, nama Poniran lebih sering disebut menjalin Sambungan Langsung Jarak Dekat dengan Minthul.

Peni bertanya dalam hati “Rumahnya kok nggak jadi-jadi ya? Padahal uang kiriman gede bangt,” Sedang menurut celetukan warga, mereka sering melihat Poniran boncengan bareng mengarah ke hotel untuk berbuat selingkuh.

“Lha wong uangnya dipakai bangun rumah kok buat menjalin hubungan lain,” jawab tetangga yang lain.

Sementara itu, di negeri seberang, Peni mulai merasakan ada yang janggal. Insting seorang istri—yang kadang lebih tajam dari CCTV—mulai bekerja. Ia menghitung: uang yang dikirim tak sebanding dengan hasil bangunan.

“Ini rumah apa kandang ayam direnovasi pelan-pelan?” gumamnya.

Puncaknya terjadi saat Peni melakukan video call mendadak. Dalam sekejap, ia melihat sosok perempuan melintas di belakang Poniran.

“Siapa itu?” tanya Peni, suaranya mulai meninggi.

Poniran panik. “Eh… itu… itu… tamu!”

“Tamu kok pakai daster saya?” jawab Peni dingin.

Sejak saat itu, konflik meledak. Cekcok jadi makanan sehari-hari, bahkan lebih rutin daripada kiriman uang. Poniran yang biasanya santai, kini sering terlihat gelisah. Sementara Peni, yang dulu lembut, berubah jadi badai yang siap merobohkan segalanya.

Pihak desa turun tangan. Kepala dusun dan RT mencoba menjadi “wasit cinta” dalam drama ini. Mediasi dilakukan, bukan sekali, tapi tiga kali.

“Masih bisa diperbaiki, Pak,” kata Pak RT dengan nada bijak.

“Tergantung… mau diperbaiki atau diganti pemainnya,” sahut warga di belakang.

Namun, semua usaha sia-sia. Luka sudah terlalu dalam, kepercayaan sudah hancur, dan cinta… tinggal kenangan yang basi.

Akhirnya, keputusan paling dramatis pun diambil: merobohkan rumah yang belum selesai itu. Dan mereka tak segan mendatangkan eskavator untuk eksekusi. Karena mereka sama sama tak mau rugi, atau mengambil untung.

Surat perjanjian dibuat. Tak ada tangisan romantis seperti di film. Yang ada hanya suara palu, debu beterbangan, dan tatapan kosong dua orang yang pernah saling mencintai.

Rumah yang dibangun dari keringat Peni, kini rata dengan tanah. Ironisnya, yang paling kokoh justru bukan dindingnya, tapi pendirian mereka yang sudah tidak bisa bersatu.

Di sudut kampung, warga masih membicarakan kisah ini. Bukan karena ingin menghakimi, tapi karena ini jadi pelajaran mahal:

Bahwa cinta jarak jauh butuh lebih dari sekadar kuota dan kiriman uang.
Bahwa kesetiaan tak bisa diganti dengan alasan “kebutuhan batin.”
Dan yang paling penting…

“Kalau mau selingkuh, jangan pakai uang istri. Itu bukan cinta, itu bunuh diri ekonomi”. saran Paidi sahabat Poniran.

Dan kini, Poniran kini kembali ke kehidupan awalnya: serabutan. Bedanya, dulu ia punya istri yang setia. Sekarang, ia hanya punya cerita… yang jadi bahan gosip satu kampung.

rumah dirobohkan_ilustrasi
rumah dirobohkan_ilustrasi

Misteri Hantu Watu Semaur: Panggilan Pengantin Hilang

Hantu Watu Semaur
Hantu Watu Semaur

Energi Juang News,Ponorogo- Jalanan di kawasan perbukitan Ngrayun, Ponorogo, tampak biasa di siang hari. Aspal sempit membelah hutan pinus dan kebun warga, dengan suara burung yang bersahutan. Namun ketika malam turun, suasana berubah drastis. Udara menjadi lebih dingin, sunyi terasa menekan, dan bayangan pepohonan tampak seperti sosok yang diam mengawasi.

Di salah satu tikungan, terdapat sebuah batu besar di tepi jalan—dikenal warga sebagai Watu Semaur.

Tak ada papan peringatan. Tak ada tanda bahaya. Tapi warga setempat tahu, tempat itu bukan sekadar batu biasa.

Menurut cerita turun-temurun, puluhan tahun lalu ada sepasang pengantin baru yang melanggar adat. Mereka keluar rumah berdua sebelum selapan hari pernikahan tanpa pendamping.

Dalam kepercayaan Jawa, itu adalah pantangan.

Dan malam itu, mereka tidak pernah kembali.

Keluarga mencari ke mana-mana, termasuk ke area Watu Semaur. Pencarian dilakukan dengan cara tradisional—memanggil nama mereka keras-keras di sekitar lokasi.

Samar terdengar sesuatu menjawab, namun suara lain yang terdengar menakutkan..

“Le… pulang…!” teriak salah satu anggota keluarga waktu itu.

Lalu terdengar sahutan pelan.

“Iya…” Penasaran ada yang menjawab,dicari asal usul suara itu namun ketika didekati tak ada siapa-siapa.

Hanya suara tanpa wujud, pengalaman gaib yang tak bisa diserna dengan akal biasa.

Beberapa hari kemudian, ditemukan sehelai selendang kuning di dekat batu tersebut. Anehnya, selendang itu seperti melekat pada permukaan batu, meninggalkan bekas warna kekuningan yang tak pernah hilang hingga sekarang.

Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Watu Semaur—“semaur” berarti menjawab panggilan dan sejak saat itu pula, kisahnya tidak pernah benar-benar berakhir.

Seorang sopir kayu bernama Bejo,38th pernah mengalami kejadian yang mengubah hidupnya. Ia sedang mengangkut kayu pinus dari kawasan tersebut pada malam hari.

Sebelum Bejo berangkat, warga sudah mengingatkan.

“Kalau ada yang manggil, jangan disaut,” kata seorang warga tua.

Bejo mengangguk, meski dalam hati tidak terlalu percaya.

Saat truk hampir penuh, ia mendengar suara.

“Mas…”

Bejo menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa.

Ia kembali bekerja.

Lalu suara itu terdengar lagi.

“Mas… tolong…”

Kali ini lebih jelas. Suara perempuan, lirih, seperti menahan tangis.

Tanpa sadar, Bejo menjawab, “Iya?”

Dan seketika itu juga—

Mesin truk mati.

Rem terasa blong.

Truk mundur dengan sendirinya.

Dalam kepanikan, Bejo melihat ke kaca spion.

Dan di situlah ia melihatnya. Seorang perempuan berpakaian jawa kuno berdiri di belakang truk.

Memakai kebaya lusuh berwarna pucat, rambut panjang terurai menutupi sebagian wajah. Namun yang paling mencolok adalah lehernya sedikit miring, seolah patah, dan matanya… kosong, seperti lubang gelap tanpa cahaya.

Di tangannya, tergenggam sesuatu semacam selendang kuning.

Namun selendang itu tampak basah—bukan oleh air, melainkan sesuatu yang lebih pekat dan gelap.

Perempuan itu tersenyum dengan senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia,dengan barisan gigi runcing menyeringai. Kengerian sosok itu membuat membuat Bejo tercekat ketakutan.

Menurut cerita warga, sosok laki-laki itu diyakini sebagai pasangan si perempuan—pengantin pria yang juga hilang.

Namun berbeda dengan pasangannya, ia seolah mencoba menahan.

Seolah tidak ingin ada korban lain.

Perempuan itu menoleh dengan gerakan patah.

“Kenapa? Kita sendirian di sini…” katanya dengan suara berubah menjadi serak.

Lalu ia tertawa.

Tawa yang tidak wajar—melengking, panjang, dan menggema di antara pepohonan.

Menurut cerita warga, sosok laki-laki itu diyakini sebagai pasangan si perempuan—pengantin pria yang juga hilang.

Namun berbeda dengan pasangannya, ia seolah mencoba menahan.

Seolah tidak ingin ada korban lain.

Perempuan itu menoleh dengan gerakan patah.

“Kenapa? Kita sendirian di sini…” katanya dengan suara berubah menjadi serak.

Lalu ia tertawa dengan tawa yang tidak wajar—melengking, panjang, dan menggema di antara pepohonan.

Tiba-tiba mesin truk menyala kembali.

Rem berfungsi.

Bejo langsung menginjak gas dan melaju tanpa menoleh lagi, namun ia justru mengarah ke jurang didepannya.

Beberapa hari kemudian ia ditemukan warga meninggal dengan sangat mengerikan tak dikenali. Tubuhnya hancur tak utuh lagi terjebak didalam ruang kemudi truk yang hancur menghantam dasar jurang.

Warga hanya bisa terdiam dan segera meninggalkan tempat itu, sambil menunggu dari tim penyelamat.

Jika suatu malam kamu melintasi jalan sunyi di Desa Mrayan, dan mendengar seseorang memanggil namamu—

Jangan menoleh.

Jangan menjawab.

Karena di Watu Semaur, satu jawaban saja…

Karena bisa menjadi itu undangan terakhir.

Redaksi Energi Juang News

Java Jazz Festival 2026: Babak Baru Festival Musik Ikonik Indonesia

Java Jazz Festival 2026
Java Jazz Festival 2026

Energi Juang News,JAkarta- Selama dua dekade terakhir, festival musik tidak lagi sekadar menampilkan artis di atas panggung. Kini, festival adalah pengalaman menyeluruh: mulai dari tata ruang, interaksi sosial, hingga teknologi yang mendukung kenyamanan pengunjung.

Konsep ini juga terlihat dalam perkembangan Java Jazz Festival, yang sejak awal dikenal sebagai salah satu festival jazz terbesar di dunia. Memasuki tahun ke-21 pada 2026, festival ini menunjukkan bahwa relevansi hanya bisa dipertahankan melalui inovasi.

Dalam lanskap musik global yang terus berubah, festival musik menjadi lebih dari sekadar tempat berkumpulnya musisi dan penonton. Ia menjelma menjadi ruang perayaan budaya, eksplorasi identitas, dan bahkan gaya hidup urban. Indonesia, sebagai salah satu pusat kreativitas di Asia Tenggara, memiliki sejumlah festival musik yang mampu bersaing secara internasional—dan salah satunya kini memasuki fase transformasi yang menarik.

Selama dua dekade terakhir, festival musik tidak lagi sekadar menampilkan artis di atas panggung. Kini, festival adalah pengalaman menyeluruh: mulai dari tata ruang, interaksi sosial, hingga teknologi yang mendukung kenyamanan pengunjung.

Konsep ini juga terlihat dalam perkembangan Java Jazz Festival, yang sejak awal dikenal sebagai salah satu festival jazz terbesar di dunia. Memasuki tahun ke-21 pada 2026, festival ini menunjukkan bahwa relevansi hanya bisa dipertahankan melalui inovasi.si

Java Jazz Festival 2026 resmi mengumumkan perpindahan lokasi ke NICE PIK 2 di Tangerang, Banten. Keputusan ini bukan sekadar relokasi, melainkan langkah strategis untuk membuka kemungkinan baru.

Menurut Dewi F. Gontha, perpindahan ini adalah bagian dari visi untuk “melakukan sesuatu yang lebih baik” dan memberikan pengalaman festival yang lebih eksploratif.

Salah satu daya tarik utama tahun ini adalah hadirnya sepuluh panggung dengan identitas masing-masing. Setiap panggung dirancang untuk merepresentasikan spektrum jazz yang luas—dari klasik hingga eksperimental.

Pendekatan ini menjadikan festival bukan hanya tontonan, tetapi perjalanan musikal.

Perubahan lokasi tentu membawa tantangan, terutama soal aksesibilitas. Namun, panitia telah menyiapkan solusi yang cukup progresif.

Langkah ini menunjukkan bahwa festival modern tidak hanya memikirkan hiburan, tetapi juga keberlanjutan dan kenyamanan pengunjung.

Menariknya, tahun ini Java Jazz menggandeng Bank Central Asia (BCA) sebagai mitra perbankan utama.

Menurut perwakilan BCA, kemitraan ini didasari oleh visi yang sama dalam mendukung industri kreatif Indonesia. Inisiatif ini juga mencerminkan bagaimana festival musik kini bersinggungan erat dengan teknologi finansial.

Jazz sering dianggap sebagai genre yang “serius” atau bahkan eksklusif. Namun, Java Jazz Festival telah lama membuktikan sebaliknya.

Di Java Jazz 2026, pendekatan ini semakin diperkuat dengan kurasi lintas genre yang lebih berani.

Salah satu kata kunci dalam festival tahun ini adalah “imersif”. Artinya, pengunjung tidak hanya menonton, tetapi benar-benar merasakan pengalaman tersebut.

Dengan pendekatan ini, Java Jazz tidak hanya bersaing dengan festival musik lain, tetapi juga dengan berbagai bentuk hiburan modern.

Bagi orang dewasa muda yang sadar budaya, festival seperti Java Jazz memiliki makna lebih dalam.

Java Jazz menjadi ruang di mana berbagai latar belakang bertemu, berbagi pengalaman, dan merayakan kreativitas.

Tidak bisa dipungkiri, festival musik memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Dari pariwisata hingga industri kreatif lokal, efeknya terasa luas.

Kolaborasi dengan berbagai pihak—termasuk sektor perbankan—menunjukkan bahwa festival musik kini menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif Indonesia.

Java Jazz Festival 2026 menandai babak baru yang menarik. Dengan lokasi baru di PIK, konsep yang lebih matang, dan kolaborasi lintas sektor, festival ini menunjukkan arah masa depan industri musik Indonesia.

Di tengah dunia yang semakin digital, pengalaman nyata seperti festival musik justru menjadi semakin berharga. Ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh layar: koneksi manusia, energi kolektif, dan momen yang tak terlupakan.

Bagi para penikmat musik, Java Jazz 2026 bukan sekadar acara—melainkan perjalanan. Sebuah kesempatan untuk melihat bagaimana musik terus berevolusi, sekaligus merasakan denyut budaya yang hidup di tengah masyarakat modern.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba: Perkuat Independensi Satgas PPKS Untuk Perangi Pelecehan Seksual!

Energi Juang News, Jakarta- Esteria Tamba, Sekretaris Jenderal Pemuda Parlemen Indonesia, menanggapi fenomena pelecehan seksual verbal di ruang digital yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI).

Terkait hal itu, Esteria menyoroti urgensi transformasi kurikulum. Ia menegaskan bahwa integritas moral tidak bisa digantikan oleh hafalan undang-undang.

“Menurut saya juga, diperlukan penguatan independensi Satgas PPKS (Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) untuk menanggulangi berbagai bentuk pelecehan seksual di lingkungan kampus,” ujar Esteria, dalam webinar nasional bertajuk “Krisis Etika Calon Penegak Hukum: Membedah Skandal Pelecehan di FH UI” yang digelar Bidang Sarinah DPC GMNI Jakarta Timur, baru-baru ini.

Esteria, yang juga aktif di Institut Sarinah ini juga mengatakan pergeseran budaya hukum penting dilakukan, agar Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dapat ditegakkan secara konsisten.

“Pergeseran budaya hukum menjadi penting, agar UU TPKS ditegakkan sehingga tak ada ruang impunitas bagi siapa pun, termasuk mahasiswa dari almamater ternama,” tegas Esteria, yang juga kader GMNI Jambi.

Dalam opening speech sekaligus pembukaan webinar ini, Tiarma Simanjuntak selaku Wakabid Sarinah DPC GMNI Jakarta Timur, menyampaikan pesan kuat mengenai ironi yang terjadi di lingkungan akademis.

“Hari ini kita berdiri di hadapan kenyataan pahit bahwa institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan keadilan, justru melahirkan bibit-bibit yang menormalisasi kekerasan melalui dalih ‘diam berarti consent’. Hal ini bukan sekadar kekhilafan individu, melainkan sinyal bahaya akan adanya ‘ruang gelap’ dalam budaya mahasiswa yang masih melanggengkan objektifikasi perempuan,” tegas Tiarma.

Pembicara lain dalam kegiatan yang dipandu oleh Agnes Gulo sebagai MC dan dimoderatori oleh Eva Lestina Wijaya ini adalah Maria Manjur dari PMKRI Jakarta Timur St. Petrus Kanisius. Dia menyatakan keprihatinan mendalam terhadap sistem pendidikan karakter di universitas. Ia mendesak agar pihak kampus tidak menutup mata demi menjaga reputasi.

Baginya, tindakan amoral di lingkungan kampus harus dihentikan dengan pengawalan kasus yang transparan dan berkelanjutan agar kampus kembali menjadi ruang aman bagi mahasiswa, bukan ruang ketakutan yang penuh intimidasi.

 

Redaksi Energi Juang News

Standar Ganda Kemanusiaan: Palestina Disuarakan, Papua Diabaikan

Sikap pemerintah Indonesia yang lantang mengutuk penindasan terhadap Palestina selama ini kerap menjadi sorotan sebagai manifestasi komitmen konstitusional terhadap kemerdekaan dan keadilan global.

Dukungan terhadap Palestina bahkan telah menjadi bagian dari identitas diplomasi Indonesia di berbagai forum internasional soal Konflik Palestina dan Papua.

Namun, komitmen tersebut menjadi problematis ketika di saat yang sama negara justru abai atau bahkan terlibat dalam praktik pelanggaran kemanusiaan di wilayahnya sendiri, khususnya di Papua.

Ironi Perlindungan Sipil

Laporan terbaru dari Komnas HAM mengungkapkan bahwa operasi militer di Kampung Kembru, Kabupaten Puncak, Papua, telah menyebabkan sedikitnya 12 warga sipil tewas. Peristiwa ini bukan sekadar insiden, melainkan bagian dari pola panjang kekerasan yang melibatkan aparat keamanan dalam konflik bersenjata di Papua.

Jika benar negara hadir untuk melindungi seluruh rakyatnya tanpa kecuali, maka tragedi ini menjadi ironi yang sulit dibantah.

Kacamata Keadilan dan Postkolonial

Dalam perspektif teori keadilan global, pemikir seperti John Rawls menekankan pentingnya prinsip fairness dan kesetaraan dalam memperlakukan setiap individu. Negara tidak dapat secara selektif menunjukkan empati hanya pada korban di luar negeri, sementara mengabaikan penderitaan warganya sendiri.

Lebih jauh, Amartya Sen melalui pendekatan kapabilitas menegaskan bahwa keadilan harus diukur dari kemampuan individu untuk hidup dengan martabat. Hal ini jelas terampas ketika warga sipil menjadi korban operasi militer.

Standar ganda ini juga dapat dibaca melalui lensa teori postkolonial. Frantz Fanon dalam karyanya menyoroti bagaimana kekuasaan sering mereproduksi relasi kolonial dalam bentuk baru, bahkan oleh negara yang pernah mengalami penjajahan.

Dalam konteks Papua, pendekatan keamanan yang dominan menunjukkan adanya kecenderungan melihat wilayah tersebut sebagai “yang lain” yang harus negara kendalikan, bukan sebagai bagian integral dari bangsa yang memiliki hak yang sama.

Lebih lanjut, konsep state violence dalam kajian Ilmu Politik menjelaskan bahwa negara sering kali melegitimasi kekerasan atas nama stabilitas dan kedaulatan. Namun legitimasi ini menjadi rapuh ketika menyasar warga sipil yang seharusnya negara lindungi.

Dalam kerangka hak asasi manusia, tidak ada justifikasi yang dapat membenarkan hilangnya nyawa warga sipil akibat operasi militer. Apalagi tanpa akuntabilitas yang transparan.

Solidaritas Tanpa Batas Geografis

Indonesia tentu tidak salah dalam membela Palestina. Namun, solidaritas internasional tidak boleh menjadi alat untuk menutupi kegagalan domestik.Kritik terhadap Israel akan kehilangan legitimasi moral jika negara sendiri tidak konsisten dalam menegakkan prinsip kemanusiaan di dalam negeri.

Dalam hal ini, apa yang terjadi di Papua mencerminkan paradoks. Negara yang vokal menentang penindasan global, tetapi diam atau bahkan terlibat dalam praktik serupa di wilayahnya sendiri.

Karena itu, langkah yang diperlukan bukan sekadar retorika, melainkan tindakan konkret. Pemerintah harus melaksanakan investigasi independen secara transparan terhadap peristiwa di Kampung Kembru.

Aparat yang terbukti melanggar harus menghadapi proses hukum, dan pemerintah perlu mengevaluasi pendekatan militeristik terhadap Papua secara menyeluruh. Tanpa itu semua, publik akan terus mempertanyakan komitmen Indonesia terhadap kemanusiaan.

Pada akhirnya, kemanusiaan tidak mengenal batas geografis. Jika Indonesia ingin tetap berdiri di garis depan dalam memperjuangkan keadilan global, maka konsistensi harus dimulai dari dalam negeri.

Sebab, membela Palestina sambil mengabaikan Papua bukanlah solidaritas melainkan standar ganda yang meruntuhkan fondasi moral itu sendiri.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Misteri Hantu Gunung Gombak: Bisikan dari Astana Giri

Sosok berkuda
Sosok berkuda

Energi Juang News,Ponorogo- Gunung Gombak memang tidak tinggi. Hanya sekitar 250 meter di atas permukaan laut. Namun, bagi sebagian orang, perjalanan ke puncaknya bukan hanya soal fisik—melainkan juga tentang keberanian menghadapi sesuatu yang tak kasatmata.

Di puncak Gunung Gombak, terdapat kompleks pemakaman yang dikenal sebagai Astana Giri Gombak. Di sanalah dimakamkan seorang tokoh penting: Tumenggung Brotonegoro, atau dikenal sebagai Bupati Polorejo, sosok yang pernah membantu perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda pada tahun 1825.

Ia wafat setelah terluka dalam pertempuran dan melarikan diri hingga ke kawasan ini. Untuk menyembunyikan jejaknya, jenazahnya dikuburkan di puncak gunung yang saat itu dianggap terlarang.

Sejak saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai Nglarangan—tempat yang dulu tidak boleh dikunjungi sembarang orang.

Kini, tempat itu justru ramai oleh peziarah.

Namun, tidak semua pulang dengan cerita biasa.

Suatu malam di bulan Suro, seorang pemuda bernama Dimas datang bersama dua temannya. Mereka berniat ziarah sekaligus “uji nyali”.

“Ah, paling cuma cerita orang tua,” kata Dimas sambil menyalakan senter.

Di pos bawah, mereka bertemu dengan juru kunci makam, Pak Patok.

“Kalau naik malam, jangan sembarangan bicara,” pesan Pak Patok pelan.

Dimas tersenyum meremehkan. “Siap, Pak. Kami cuma mau lihat-lihat.”

Pak Patok menatapnya lama. “Yang dilihat… belum tentu suka dilihat balik.”

Perjalanan menuju puncak hanya sekitar 700 meter. Tapi malam itu terasa jauh lebih panjang.

Langkah kaki mereka bergema aneh.

“Eh, kalian dengar?” bisik salah satu temannya.

“Apa?” tanya Dimas.

“Kayak suara kuda…”

Dimas tertawa. “Di gunung begini mana ada kuda?”

Namun suara itu kembali terdengar.

“Tap… tap… tap…”

Seperti derap pelan dari kejauhan.

Mereka berhenti. Senter diarahkan ke jalan setapak yang gelap.

Kosong.

Tapi suara itu terus mengikuti.

Saat hampir sampai puncak, Dimas merasa ada yang berjalan di belakangnya.

Ia menoleh cepat.

Dan di situlah ia benar benar kaku tak bergerak melihat sosok yang muncul dibelakangngnya.

Sesosok bayangan hitam, tinggi, dengan bentuk menyerupai penunggang kuda, namun tanpa wajah yang jelas karena tempat itu hanya disinari rembulan.

“Woy… kalian lihat itu?” suara Dimas bergetar.

Temannya menjawab pelan, “Jangan ditunjuk… jangan dilihat lama…”

Namun sudah terlambat.

Bayangan itu berhenti.

Dan perlahan… mendekat.

“Siapa… kamu?” tanya Dimas dengan suara nyaris tak terdengar.

Tak ada jawaban.

Namun suara lain muncul—bukan dari depan, melainkan dari samping.

“Muleeehh” Dimas menoleh ke arah suara itu, tapi tak ada siapa-siapa.

“Muleeehh”…” suara itu kembali terdengar, kini lebih dekat.

Temannya menarik lengannya. “Dim, kita turun sekarang, ini sudah terlalu jauh masuk ke alam mereka!”

Namun kaki Dimas terasa berat, seolah tanah menahannya. Mulut tak bisa berkata, hanya menggigil ketakutan.

Mereka akhirnya berhasil mencapai puncak. Di sana, kompleks makam terlihat tenang. Lampu redup menerangi cungkup utama tempat dimakamkannya Tumenggung Brotonegoro dan istrinya.

Menurut Pak Patok, banyak peziarah datang dengan niat berbeda. Ada yang berdoa, ada yang mencari berkah, bahkan ada yang mencoba hal-hal di luar batas.

“Kalau niatnya tidak baik, biasanya ‘ditunjukkan’,” ujarnya.

“Ditunjukkan bagaimana, Pak?”

“Ya… seperti yang kamu alami.”

Sejak malam itu, Dimas berubah.

Ia tidak pernah lagi meremehkan tempat-tempat seperti Gunung Gombak.

Suatu hari, temannya bertanya, “Kalau diajak ke sana lagi?”

Dimas langsung menggeleng.

“Enggak semua tempat cocok untuk manusia,” katanya pelan.

“Emangnya kamu takut?” Dimas menatap kosong.
“Bukan takut… tapi tahu diri.”

Gunung Gombak tetap menjadi tujuan wisata religi yang ramai. Peziarah datang silih berganti, membawa harapan dan doa.

Redaksi Energi Juang News