Energi Juang News – Gus Nuril Arifin, pengasuh pondok pesantren Abdurrahman Wahid dan 13 pesantren lainnya, mengungkap esensi cinta kepada Allah sebagai sebuah proses transformasi diri.
“Cinta kepada Allah itu bukan sekadar pengakuan, tapi perubahan. Sudahkah kita berubah dari makhluk yang hanya memikirkan makan, minum, dan berbuat dosa menjadi manusia yang lebih baik?” ujar Gus Nuril.
Ia mengibaratkan transformasi ini seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. “Awalnya ulat memakan kotoran, lalu ketika menjadi kupu-kupu, makanannya berubah menjadi sari bunga,” jelasnya.
Untuk mendekati Allah yang Maha Lembut, hati juga harus dilembutkan dan dibersihkan. “Makrifat kepada Allah akan membawa kita pada mukasyafah, hingga akhirnya muhasabah,” tambahnya.
Gus Nuril menegaskan bahwa menjadi insan kamil berarti terus belajar dan bermanfaat bagi sesama. “Santri itu dirindukan surga. Dengan ilmu, Allah mengangkat derajat seseorang,” tegasnya.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Menurutnya, tugas utama manusia adalah menyempurnakan akhlak dengan ilmu, iman, dan kesabaran.
“Kesempurnaan hanya milik Allah. Kita hanya bisa berusaha dan berharap agar amal kita diterima,” pungkasnya.
Redaksi Energi Juang News



