Rabu, April 29, 2026
spot_img
BerandaRagamJejak Luar Biasa Soesalit Djojoadhiningrat: Anak Tunggal RA Kartini yang Terlupakan Sejarah

Jejak Luar Biasa Soesalit Djojoadhiningrat: Anak Tunggal RA Kartini yang Terlupakan Sejarah

Energi Juang News, Jakarta- Soesalit Djojoadhiningrat, putra tunggal dari Raden Ajeng Kartini dan RM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, lahir pada 13 September 1904 di Rembang, Jawa Tengah. Tragisnya, empat hari setelah kelahirannya, RA Kartini meninggal dunia, meninggalkan Soesalit tanpa pernah mengenal ibunya. Nama “Soesalit” berasal dari akronim bahasa Jawa “susah nalika alit,” yang berarti “susah di waktu kecil,” mencerminkan kesulitan yang dihadapinya sejak dini.

Setelah kehilangan ibunya, Soesalit diasuh oleh neneknya, Ngasirah. Namun, pada usia delapan tahun, ia menjadi yatim piatu setelah ayahnya meninggal dunia. Kakak tirinya, Abdulkarnen Djojoadiningrat, kemudian mengambil tanggung jawab penuh atas pengasuhan dan pendidikan Soesalit.

Soesalit memulai pendidikannya di Europe Lagere School (ELS), sekolah yang ditujukan bagi anak-anak Belanda dan bangsawan Jawa. Pada tahun 1919, ia melanjutkan ke Hogare Burger School (HBS) di Semarang dan lulus pada tahun 1925. Ia kemudian melanjutkan studi hukum di Rechthoogeschool (RHS) Batavia, namun hanya bertahan selama satu tahun sebelum memutuskan untuk bergabung dengan militer.

Karier militernya dimulai saat pendudukan Jepang, di mana ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) dan menjadi komandan batalion di Banyumas II. Setelah kemerdekaan Indonesia, Soesalit menjabat sebagai Panglima Komando Pertempuran Daerah Kedu pada tahun 1948. Namun, akibat reorganisasi militer (Re-Ra) pada tahun yang sama, pangkatnya diturunkan dari Mayor Jenderal menjadi Kolonel.

Soesalit dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan tidak pernah menonjolkan diri, meskipun merupakan anak dari pahlawan nasional. Ia bahkan tidak memiliki tanda bukti sebagai veteran, hanya surat tanda jasa dari Panitia Urusan Pemulangan Tentara Jepang (POPDA). Menjelang akhir hayatnya, ia hidup sederhana dan meninggal dunia pada 17 Maret 1962 di Jakarta. Ia dimakamkan di kompleks makam RA Kartini dan keluarganya di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Baca juga :  Misteri Hilangnya Michael Rockefeller: Anak Orang Terkaya Dunia Hilang di Papua

Kehidupan keturunan Soesalit juga tidak lepas dari kesulitan. Anaknya, Boedi Setyo Soesalit, meninggal pada usia 57 tahun, meninggalkan istri dan lima anak yang hidup dalam keprihatinan. Mereka sempat menempati rumah bantuan pemerintah di Parung, Bogor, namun terpaksa meninggalkannya setelah Boedi wafat.

Bupati Jepara, Ahmad Marzuki, menyatakan bahwa “Ada oknum yang meminta mereka meninggalkan rumah bantuan pemerintah itu. Cucu menantu dan para cicit RA Kartini dianggap tidak berhak menghuni lagi karena cucu RA Kartini sudah meninggal.” Pemerintah Kabupaten Jepara telah beberapa kali menghubungi Kementerian Pendidikan dan PUPR untuk memperjuangkan bantuan bagi keturunan RA Kartini, namun hingga kini belum ada tanggapan.

Kisah Soesalit Djojoadhiningrat dan keturunannya mencerminkan perjuangan dan pengorbanan yang seringkali terlupakan dalam sejarah bangsa. Meski tidak menonjolkan diri, kontribusi mereka bagi Indonesia patut dihargai dan dikenang.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments