Sabtu, April 18, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaMelawan Intoleransi di Tanah Pancasila dengan Ajaran Bung Karno

Melawan Intoleransi di Tanah Pancasila dengan Ajaran Bung Karno

Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta- Penolakan terhadap ibadah umat Katolik di Bandung dan Tangerang baru-baru ini merupakan sinyal bahaya bagi kehidupan toleransi di Indonesia. Di Bandung, penolakan misa Katolik di Gedung Serbaguna Arcamanik oleh sekelompok warga telah menuai kecaman dari Imparsial. Lembaga HAM ini menyebut tindakan tersebut mencederai prinsip kebebasan beragama sebagaimana dijamin UUD 1945 Pasal 28E ayat (1) dan Pasal 29 ayat (2).

Dalam pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan bahwa, “Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa.” Ia menyerukan agar rakyat Indonesia “ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme-agama.” Kalimat ini bukan hanya petuah sejarah, tapi relevansi nyata yang menegur nurani bangsa saat ini.

Bung Karno juga menekankan bahwa, “Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.” Ini adalah pesan yang mengakar dari nilai verdraagzaamheid—toleransi sejati seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS.

Fakta-fakta intoleransi ini bukan hanya persoalan ibadah, tetapi juga bentuk nyata polarisasi sosial. Masyarakat terbelah antara kelompok yang memegang teguh toleransi dan mereka yang mengatasnamakan mayoritas untuk menekan minoritas. Jika dibiarkan, ini akan memperlemah kohesi sosial dan memicu ketegangan horizontal.

Toleransi bukan pilihan, tapi prasyarat bagi kesejahteraan bersama. Negara wajib menjamin ruang ibadah semua golongan, dan masyarakat harus aktif menjaga ruang damai ini. Pemerintah perlu mengedepankan pendidikan toleransi dan membangun sistem penegakan hukum yang tidak pandang bulu.

Perhatian khusus terhadap isu ini bukan sekadar urusan agama, tapi juga masa depan kebangsaan. Kita harus memilih: menjadi bangsa yang saling melindungi, atau bangsa yang saling membungkam. Jangan sampai Pancasila tinggal slogan, sementara nilai-nilainya terinjak oleh egoisme kepercayaan.

Baca juga :  Kematian Timothy: Momentum Perangi Budaya Kematian di Kampus

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments