Energi Juang News, Jakarta— Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas, kali ini menimpa raksasa penerbangan Boeing. Tiga unit pesawat Boeing 737 MAX yang telah disiapkan untuk maskapai China, termasuk Xiamen Airlines dan Air China, dikembalikan ke fasilitas Boeing di Seattle.
Langkah ini diambil setelah pemerintah China memberlakukan kebijakan baru yang mewajibkan maskapai domestik mendapatkan persetujuan pemerintah sebelum menerima pengiriman pesawat dari Boeing.
CEO Boeing, Kelly Ortberg, menyatakan bahwa perusahaan tidak akan melanjutkan produksi pesawat untuk pelanggan yang menolak menerima pengiriman.
“Kami tidak akan terus membangun pesawat untuk pelanggan yang tidak akan menerimanya,” tegas Ortberg. Boeing juga mengindikasikan bahwa pesawat-pesawat yang ditolak oleh China akan dialihkan ke pembeli lain yang berminat.
Penolakan ini terjadi di tengah eskalasi perang tarif antara AS dan China. Beijing menaikkan tarif impor barang-barang dari AS menjadi 125% sebagai balasan atas kenaikan tarif AS terhadap produk China sebesar 145%. Kenaikan tarif ini secara signifikan meningkatkan biaya pesawat buatan AS, membuatnya tidak ekonomis bagi maskapai China.
Boeing sebelumnya merencanakan sekitar 50 pengiriman pesawat ke China untuk tahun ini, namun kini harus mencari pembeli alternatif untuk 41 pesawat yang telah selesai atau sedang dalam proses produksi.
Saat ini, terdapat 36 pesawat yang ditujukan untuk China dalam berbagai tahap penyelesaian di AS, dan Boeing masih memiliki 130 pesanan yang belum terpenuhi dari entitas China, termasuk 96 untuk 737 MAX.
Meskipun menghadapi tantangan ini, Boeing tetap optimis terhadap pemulihan keuangannya. Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2025, Boeing mencatat kerugian yang lebih kecil dari perkiraan analis, dengan pendapatan mencapai US$19,5 miliar. Saham Boeing pun mengalami kenaikan sebesar 6,6% setelah pengumuman tersebut.
Namun, penolakan dari China ini menjadi pukulan bagi Boeing, mengingat China merupakan pasar penting yang sebelumnya menyumbang sekitar 10% dari backlog pesanan komersial Boeing senilai US$500 miliar. Dengan meningkatnya ketegangan dagang dan pembatasan dari China, Boeing harus menavigasi tantangan ini sambil mempertahankan posisinya di pasar global.
Redaksi Energi Juang News



