Energi Juang News, Jakarta– Di tengah laporan peningkatan jumlah tenaga kerja di Indonesia, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) justru menghantam berbagai sektor industri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan tenaga kerja lebih dari 4,7 juta orang hingga Agustus 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, laporan Jobstreet dalam ‘Hiring, Compensation, and Benefits 2025’ mengungkapkan bahwa 42% perusahaan di Indonesia mengurangi jumlah karyawan mereka.
Sebanyak 42% perusahaan mengurangi jumlah karyawan yang dipekerjakan. Karyawan tetap penuh waktu menyumbang porsi terbesar dari karyawan yang diberhentikan pada tahun 2024, yaitu sebesar 27%, diikuti oleh karyawan paruh waktu, kontrak, dan temporer, tulis Jobstreet dalam laporan ‘Hiring, Compensation, and Benefits 2025’
Daftar 10 Pekerjaan yang Paling Banyak Dipangkas Perusahaan Sepanjang 2024
- Admin dan SDM (29%)
- Management (22%)
- Akuntansi (16%)
- Marketing/Branding (15%)
- Manufaktur (14%)
- Sales/Business Development (12%)
- Corporate Sales/Business Development (11%)
- Information Technology/IT (10%)
- Engineering (10%)
- Legal/Compliance (8%)
Alasan utama di balik pengurangan tenaga kerja ini meliputi upaya pengurangan biaya operasional, perkiraan kondisi ekonomi yang memburuk, penerapan model kepegawaian yang lebih fleksibel seperti penggunaan staf paruh waktu atau temporer, restrukturisasi, otomatisasi pekerjaan tertentu dengan teknologi, dan penggunaan outsourcing.
“Menariknya, sebagian besar fungsi pekerjaan yang paling banyak dikurangi merupakan posisi teratas yang banyak dicari oleh perusahaan pada 2024,” tambah Jobstreet.
Fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara perekrutan dan PHK di pasar tenaga kerja Indonesia. Meskipun ada peningkatan dalam jumlah tenaga kerja, banyak perusahaan yang tetap melakukan PHK sebagai langkah strategis menghadapi tantangan ekonomi dan perubahan dalam model bisnis mereka.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja dan menuntut perhatian serius dari pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya untuk mencari solusi yang dapat menyeimbangkan pertumbuhan tenaga kerja dengan stabilitas pekerjaan.
Redaksi Energi Juang News



