Energi Juang News, Jakarta- Di sebuah desa yang tersembunyi di kaki pegunungan Jawa, tinggal sebuah keluarga sederhana yang hidup dari bertani dan sesekali menjadi dukun bayi. Tapi apa yang mereka lakukan selama puluhan tahun ternyata membuka celah gaib yang seharusnya tak pernah mereka sentuh.
Mereka sering kali menemukan bayi bajang—bayi prematur atau lahir tidak sempurna—yang ditinggalkan di hutan atau makam tua. Ibu dalam keluarga itu, seorang dukun, selalu berkata:
“Bayi-bayi ini harus dirawat. Kalau tidak, arwahnya bakal gentayangan dan jadi buas.”
Tak sekali dua kali, mereka membawa pulang jasad bayi-bayi tersebut untuk dimandikan, dibacakan doa, bahkan dibuatkan rumah kecil di belakang pekarangan. Awalnya semua tampak baik-baik saja. Tapi lambat laun, suara tangisan bayi mulai terdengar setiap malam. Kadang dari loteng, kadang dari kamar kosong.
Lalu terjadilah hal yang mengubah hidup mereka selamanya…
Suatu malam, anak bungsu keluarga itu terbangun karena merasa seperti ada yang memenuhi bagian atas dadanya. Saat membuka mata, ia melihat sesosok bayi dengan tubuh gosong, mata bolong, dan membungkuk koyak… berbaring di atas tubuhnya.
“Mama… itu siapa di kamar kakak?”
“Enggak ada siapa-siapa, Sayang… kamu mimpi…”
Tapi malam-malam berikutnya, anak-anak lain juga mulai melihat sosok yang sama. Bayi itu tak pernah tumbuh besar. Ia tetap mungil, tapi setiap kali muncul, tubuhnya makin rusak dan aroma amis darah makin pekat.
Tak hanya muncul di rumah, bayi bajang itu ikut ke mana pun mereka pergi.
Ke kebun, ke pasar, bahkan muncul di foto keluarga—selalu berdiri di pojok dengan kepala miring dan mata hitam menatap lensa. Orang-orang desa mulai menjauh.
“Mereka hidup dengan setan,” kata salah satu tetangga.
“Setan itu udah jadi bagian dari mereka…”
Satu persatu anggota keluarga mulai mengalami kecelakaan aneh. Ada yang jatuh dari pohon tanpa sebab, ada yang mendadak lupa identitasnya sendiri, dan yang paling mengerikan—salah satu anaknya ditemukan menggantung di gudang dengan tulisan di dinding:
“Aku cemburu. Kalian tak pernah peluk aku.”
Sejak malam itu, bayi bajang itu tak lagi menangis. Ia tertawa. Tawa kecil yang mengerikan… dan terus terdengar setiap malam, dari belakang lemari, di bawah tempat tidur, dari balik langit-langit.
Kini keluarga itu tak lagi lengkap. Hanya tersisa si ibu tua yang duduk di teras setiap sore, memandangi halaman kosong. Ia tak pernah mengusir makhluk itu.
“Dia anakku juga. Sudah terlalu lama tinggal di sini. Kalau dia pergi, mungkin aku yang akan ikut dengannya…”
Dan benar saja, sejak itu, tak ada yang bisa membedakan mana keluarga asli, mana yang tak kasat mata. Semua seakan sudah menyatu. Hidup berdampingan… dalam senyap dan teror yang tak pernah usai.Bayi Bajang bukan sekadar mitos.
Ia adalah simbol dari jiwa-jiwa kecil yang terlupakan. Dan ketika mereka merasa diabaikan, mereka tak akan pergi… malah tinggal… dan jadi keluarga. Mau atau tidak?



