Energi Juang News, Jakarta– Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati secara resmi mengumumkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2025 mencatat defisit sebesar Rp 21 triliun. Defisit APBN Mei 2025 ini setara dengan 0,09% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan dinyatakan masih berada dalam batas yang ditargetkan oleh pemerintah.
“APBN hingga Mei 2025 mengalami defisit Rp 21 triliun. Defisit ini masih dalam jalur yang terkendali dan sesuai dengan perencanaan fiskal pemerintah. Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (17/6/2025).
Dari sisi penerimaan negara, tercatat sebesar Rp 995,3 triliun atau telah mencapai 33,1% dari target APBN 2025. Penerimaan pajak memberikan kontribusi terbesar dengan Rp 683,3 triliun. Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 122,9 triliun, sedangkan PNBP sebesar Rp 188,7 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara hingga Mei 2025 mencapai Rp 1.016,3 triliun atau sekitar 28,1% dari total target belanja tahun ini. Belanja pemerintah pusat terdiri dari belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 325,7 triliun dan belanja non-kementerian/lembaga senilai Rp 368,5 triliun. Selain itu, terdapat transfer ke daerah sebesar Rp 322 triliun.
Sri Mulyani juga menekankan bahwa meskipun terjadi defisit, keseimbangan primer APBN masih mencatatkan surplus sebesar Rp 192,1 triliun. “Ini menunjukkan ketahanan fiskal kita tetap terjaga dengan baik,” jelasnya.
Redaksi Energi Juang News



