Energi Juang News, Jakarta— Negara-negara anggota BRICS menegaskan komitmennya untuk reformasi besar-besaran di IMF. Mereka menilai sistem kepemimpinan dan kuota saat ini tidak adil bagi negara berkembang.
Pernyataan resmi BRICS menekankan pentingnya mengakhiri dominasi Barat di IMF. Pernyataan itu dirilis setelah pertemuan menteri keuangan BRICS di Rio de Janeiro. Mereka mendesak agar posisi-posisi strategis dalam lembaga keuangan global tersebut mencerminkan keseimbangan geopolitik dan ekonomi dunia yang lebih mutakhir.
“Reformasi IMF harus didasarkan pada prestasi dan keterwakilan kawasan. Sistem kepemimpinan saat ini masih terjebak dalam perjanjian usang pasca-Perang Dunia II, yang tak lagi mencerminkan realitas global saat ini,” demikian kutipan pernyataan bersama para menteri BRICS, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (6/7).
Salah satu poin utama yang disoroti adalah sistem kuota IMF, yang menentukan besaran kontribusi dan hak suara setiap negara anggota. BRICS menekankan perlunya formula baru yang mempertimbangkan output ekonomi dan daya beli riil, termasuk nilai tukar mata uang, demi keadilan yang lebih proporsional.
Mereka menilai pendekatan saat ini tidak mencerminkan bobot ekonomi negara berkembang, yang kini memiliki peran jauh lebih besar dalam ekonomi global. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk membawa usulan tersebut dalam pertemuan IMF pada Desember mendatang yang akan fokus pada evaluasi sistem kuota.
“Penyesuaian kuota harus menunjukkan kekuatan ekonomi relatif masing-masing negara anggota, tanpa mengabaikan perlindungan hak-hak negara-negara dengan ekonomi paling rentan,” tambah mereka.
Selain itu, BRICS juga membahas kemungkinan pembentukan sistem penjaminan finansial baru yang akan didukung oleh New Development Bank (NDB). Bank ini merupakan inisiatif kolektif BRICS untuk mendukung proyek pembangunan serta mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan Barat.
NDB didirikan untuk memberikan akses pendanaan dengan biaya terjangkau bagi negara berkembang. Bank ini juga berperan penting dalam memperkuat kerja sama keuangan antaranggota.
Pertemuan tingkat menteri ini juga menjadi persiapan menjelang KTT BRICS yang akan digelar di Brasil. BRICS kini mencakup anggota baru seperti Indonesia, Mesir, Iran, Arab Saudi, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab. Kehadiran mereka diperkirakan akan memperkuat pengaruh politik dan ekonomi BRICS dalam menciptakan perubahan global yang lebih inklusif dan seimbang.
BRICS terus memperkuat basis ekonominya yang semakin luas. Kelompok ini mengampanyekan tatanan dunia baru yang mencerminkan multipolaritas dan keberagaman global.
Redaksi Energi Juang News



