Energi Juang News, Jakarta— Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan mengajukan sejumlah tuntutan baru kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menjelang kemungkinan pertemuan keduanya. Langkah ini disebut sebagai upaya mencari jalan keluar atas konflik yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun.
Mengutip laporan Reuters, Jumat (22/8/2025), tiga sumber yang memahami kebijakan internal Kremlin menyebut bahwa Putin meminta Ukraina menyerahkan sepenuhnya wilayah Donbas. Selain itu, Kyiv juga diminta membatalkan ambisi bergabung dengan NATO, tetap bersikap netral, dan menjauhkan pasukan Barat dari perbatasannya.
Isu ini mencuat setelah pertemuan tertutup selama tiga jam antara Putin dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Alaska pada 15 Agustus lalu. Dalam konferensi pers usai pertemuan, keduanya menyebut pembicaraan itu diharapkan membuka jalan menuju perdamaian, meski tidak ada detail yang diumumkan.
Menurut sumber Reuters, tuntutan terbaru Putin masih berfokus pada Donbas. Jika Ukraina bersedia menarik diri dari wilayah tersebut, Rusia dikabarkan bersedia menghentikan operasi militernya di garis depan Zaporizhzhia dan Kherson.
Tidak hanya itu, Moskow juga disebut siap melepaskan sebagian kecil wilayah Kharkiv, Sumy, dan Dnipropetrovsk yang saat ini berada di bawah kendali pasukannya. Namun, kompromi itu tetap disertai syarat utama: Ukraina tidak boleh melanjutkan niatnya untuk masuk NATO.
Kremlin juga menuntut jaminan hukum bahwa NATO tidak akan melakukan ekspansi lebih jauh ke timur Eropa. Selain itu, jumlah tentara Ukraina harus dibatasi, dan tidak boleh ada pengerahan pasukan Barat ke wilayah Ukraina dengan alasan penjaga perdamaian.
Sumber Reuters menegaskan bahwa meski ada perubahan dibanding tuntutan sebelumnya pada Juni 2024, inti sikap Putin tetap sama. Ia ingin pengakuan penuh atas kendali Rusia di Donetsk dan Luhansk sebagai bagian dari Donbas, meski bersedia melonggarkan klaim di wilayah selatan.
Sampai saat ini, pihak Ukraina belum memberikan tanggapan resmi atas proposal tersebut. Zelensky sendiri sebelumnya menolak syarat serupa karena dianggap setara dengan menyerah pada tekanan Rusia.
Situasi ini memperlihatkan betapa rumitnya jalan menuju perdamaian. Meskipun ada sinyal kompromi, tuntutan Rusia dinilai tetap berat untuk dipenuhi Kyiv.
Redaksi Energi Juang News



