Energi Juang News, Jakarta-Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memberikan catatan kritis terkait Patriot Bond.
Patriot Bond adalah obligasi yang sedang disiapkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia. Tujuannya, memperoleh sumber pendanaan jangka menengah hingga panjang.
Menurut Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira, Patriot Bond aneh, karena memiliki kupon yang jauh di bawah rata-rata kupon obligasi pemerintah.
“Alih-alih menggunakan logika investasi berbasis risiko dan pengembalian, pembelian instrumen ini oleh para konglomerat Indonesia didorong oleh tendensi politis,” kata Bhima dalam keterangan tertulis, Selasa (23/9/2025).
Patriot Bond adalah asuransi politik bagi konglomerat agar bisnisnya tidak diganggu,” sambungnya.
Ia menyebut Patriot Bond punya potensi mempengaruhi likuiditas perbankan.
Potensi itu tetap ada walaupun saat ini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah mengalihkan Rp 200 triliun dana Pemerintah yang tersimpan di rekening Bank Indonesia ke lima bank-bank BUMN.
Risiko crowding out secara sektoral disebut masih tetap ada jika dana yang terkumpul hanya mengendap dan tidak berputar lagi ke ekonomi riil atau jika pebisnis menunda ekspansi produktifnya demi membeli instrumen Patriot Bond.
Peneliti CELIOS Tabita Diela mengatakan, Patriot Bond perlu due diligence dan peta jalan yang jelas.
Meski dijanjikan untuk membiayai proyek waste-to-energy, hasil dari penjualan instrumen ini dinilai belum tentu betul-betul digunakan sebagaimana mestinya.
“Pasalnya, pembangkit listrik tenaga sampah belum terbukti efektif dan biaya pemilahan sampah tidak kompetitif dibanding opsi teknologi EBT lain, seperti panel surya dan mikro-hidro,” ujar Tabita.
Sebelumnya, Danantara telah menyatakan bahwa mereka tengah menyiapkan penerbitan Patriot Bonds untuk memperkuat peran dunia usaha dalam pembangunan.
Patriot Bonds disebut sebagai instrumen pembiayaan yang ditujukan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.
Inisiatif ini diklaim mampu membuka ruang bagi kelompok usaha nasional untuk menyalurkan bentuk pengabdiannya kepada bangsa dengan berkontribusi pada agenda pembangunan jangka panjang nasional.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir mengatakan, Danantara Indonesia berkomitmen menjalankan mandat sebagai pengelola investasi negara dengan penuh kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik.
“Setiap inisiatif pembiayaan diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi jangka panjang serta memperkuat peran dunia usaha dalam pembangunan,” ujar Pandu dikutip Selasa (26/8/2025).
Patriot Bond instrumen pembiayaan strategis yang lazim digunakan di berbagai negara, seperti Jepang dan Amerika Serikat, untuk memperkuat kemandirian pembiayaan nasional.
Melalui obligasi ini, negara memperoleh sumber pendanaan jangka menengah hingga panjang yang stabil, sementara pelaku usaha memiliki akses pada instrumen investasi yang aman dan bermanfaat bagi perekonomian nasional.
Pandu menjelaskan Patriot Bond dibangun di atas prinsip partisipasi sukarela dan tanggung jawab bersama. Sejalan dengan semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa.
Sejumlah pelaku usaha telah bersuara mengenai Patriot Bond, salah satunya adalah pemilik Barito Pacific, yaitu Prajogo Pangestu.
“Pembangunan Indonesia adalah tanggung jawab bersama. Inisiatif Danantara Indonesia melalui Patriot Bonds memberi kesempatan bagi dunia usaha untuk berkontribusi dalam transformasi ekonomi nasional dengan tata kelola yang baik dan berkelanjutan,” papar Prajogo.
CEO Golden Agri-Resources Ltd. (GAR), Franky Widjaja, juga telah memberikan pandangannya mengenai Patriot Bond.
“Patriot Bonds yang digagas Danantara Indonesia memperkuat kolaborasi pemerintah dan dunia usaha. Instrumen ini memberi kepastian investasi sekaligus mempercepat pertumbuhan yang inklusif bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Pandu menambahkan, Patriot Bonds berpotensi menjadi tonggak baru dalam perjalanan Indonesia menuju 2045, ketika kekuatan ekonomi bangsa tidak hanya diukur dari besarnya Produk Domestik Bruto, melainkan juga dari martabat dan kesejahteraan rakyatnya.
“Ini adalah panggilan gotong royong bagi dunia usaha Indonesia. Sebuah ajakan untuk menukar sebagian keuntungan jangka pendek dengan warisan jangka panjang berupa kemandirian, keberlanjutan, dan kesejahteraan bangsa,” tuturnya.
Redaksi Energi Juang News



