Energi Juang News, Tangerang– Warga Serpong, Kota Tangerang Selatan, dikejutkan oleh fenomena tak biasa ketika aliran Kali Rawa Buntu berubah warna menjadi merah pada Sabtu sore (4/10/2025). Video perubahan warna air itu viral di media sosial dan memicu dugaan pencemaran lingkungan.
Dalam rekaman warga, warna merah terlihat menyelimuti seluruh aliran kali yang mengalir cukup deras. Beberapa warga menduga perubahan itu akibat limbah zat pewarna. “Sudah dua kali seperti ini, dulu pernah hitam,” ujar Fata, warga setempat. Namun, ia menambahkan tidak ada bau menyengat yang tercium saat fenomena itu terjadi.
Investigasi DLH Tangsel
Lurah Ciater, Rosidi, mengakui peristiwa ini sudah kedua kalinya terjadi. Ia langsung berkoordinasi dengan RT/RW untuk menelusuri sumber perubahan warna air tersebut.
Sementara itu, Carsono, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengawasan Lingkungan DLH Tangsel, menduga kali tercemar oleh zat pewarna makanan, bukan pewarna tekstil. “Tim sudah menelusuri aliran dari hulu Tandon Ciater hingga perumahan depan Kantor Kemenag,” ujarnya.
Carsono menegaskan jika pelaku pencemaran berhasil diidentifikasi, mereka akan dipanggil dan diberi sanksi. “Prinsipnya, usaha apapun tidak boleh mencemari lingkungan,” katanya.
Respons Wali Kota Tangsel
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menepis anggapan adanya pencemaran bahan kimia berbahaya. Menurutnya, air di Tandon Ciater yang menjadi hulu kali masih normal. “Air tandonnya bagus, pH dan kualitasnya terukur. Perubahan warna di Ciater hanya berlangsung 10–15 menit,” ucapnya.
Benyamin menambahkan, kawasan sekitar tidak tercatat memiliki pabrik yang berpotensi membuang limbah berbahaya. Ia juga menegaskan tidak ada laporan kematian ikan atau hewan lain di sekitar kali. “Itu artinya tidak ada pencemaran kimia,” tandasnya.
Misteri yang Belum Terjawab
Meski pemerintah daerah menepis dugaan pencemaran kimia, warga masih bertanya-tanya soal sumber perubahan warna air kali. Fenomena ini menjadi perhatian publik mengingat sudah terjadi lebih dari sekali, dan dinilai mencurigakan.
DLH Tangsel menyatakan investigasi masih berlangsung. Jika benar disebabkan zat pewarna makanan, publik menunggu langkah tegas pemerintah terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Redaksi Energi Juang News



