Selasa, Maret 3, 2026
spot_img
BerandaPergerakanKetika Ridho Kiai Jadi Alasan untuk Menolak Akal Sehat

Ketika Ridho Kiai Jadi Alasan untuk Menolak Akal Sehat

Oleh: Iranto

(Aktivis, Social Media Specialist)

Energi Juang News, Sidoarjo-Di sebuah pesantren di Sidoarjo, keikhlasan menjadi dogma, dan ridho kiai menjelma hukum tak tertulis. Di balik kesalehan yang tampak suci, terselip pertanyaan tentang nasib akal dan kebebasan berpikir dalam tubuh agama.

Beberapa waktu lalu, sebuah pesantren di Sidoarjo menjadi perbincangan. Para ustaz di sana menolak insentif yang ditawarkan pemerintah. Alasannya terdengar sederhana dan mulia: “Kami tidak ingin imbalan, kami hanya mengharap ridho kiai.”

Pernyataan itu mengandung daya spiritual yang kuat. Di tengah zaman yang serba materialistik, keikhlasan seperti itu tampak sebagai oase moral. Namun di balik kesederhanaan kalimat itu, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam: apakah keikhlasan seperti ini lahir dari kebebasan nurani, atau dari dogma yang membatasi akal?

Dalam tradisi pesantren, keikhlasan adalah fondasi utama pengabdian. Santri diajarkan untuk berbuat tanpa pamrih, mengabdi tanpa berharap imbalan. Tetapi ketika semangat keikhlasan itu disakralkan tanpa ruang untuk berpikir, ia bisa berubah menjadi penjara.

Menolak uang insentif bukan persoalan. Yang patut direnungkan adalah motif di baliknya. Jika keputusan itu diambil semata-mata karena takut kehilangan “ridho kiai”, maka keikhlasan itu kehilangan makna. Ia tidak lagi menjadi pilihan spiritual, melainkan bentuk kepatuhan yang tak memberi ruang bagi kesadaran pribadi.

Akal yang semestinya menjadi anugerah Tuhan berubah menjadi sesuatu yang dicurigai. Bertanya dianggap kurang ajar, berpikir berbeda dianggap durhaka. Dalam situasi seperti itu, agama justru kehilangan watak rasionalnya.

Kiai adalah sosok penting dalam kehidupan pesantren. Ia bukan sekadar guru, melainkan panutan moral dan spiritual. Namun, ketika penghormatan pada kiai berubah menjadi pemujaan, batas antara spiritualitas dan kultus menjadi kabur.

Hubungan guru dan murid semestinya melahirkan dialog, bukan dominasi. Tapi di banyak tempat, ridho kiai dijadikan ukuran tunggal kebenaran. Ia menjadi otoritas mutlak yang menentukan benar-salah, bahkan layak-tidaknya seseorang menerima rezeki.

Dalam konteks ini, ridho kiai bisa menjadi bentuk kekuasaan simbolik kekuasaan yang tidak menindas dengan tangan, tapi dengan keyakinan. Ia mencekram lembut, tapi kuat.

Ada pandangan yang berkembang di sebagian kalangan religius bahwa menjauh dari urusan dunia adalah tanda kesucian. Menerima uang dianggap menodai nilai keikhlasan. Akibatnya, kemiskinan sering dimaknai sebagai bentuk kesalehan, bukan ketidakadilan.

Padahal, agama tidak pernah menolak kesejahteraan. Nabi tidak melarang umatnya sejahtera, yang beliau larang adalah keserakahan. Jika guru pesantren hidup sederhana karena pilihan moral, itu mulia. Tapi jika kemiskinan mereka dipertahankan karena tekanan simbolik agar tampak suci, maka agama sedang melukai dirinya sendiri.

Menolak insentif bisa menjadi tindakan spiritual, tapi juga bisa menjadi cermin dari struktur sosial yang membuat santri dan ustaz sulit menentukan pilihan secara merdeka.

Ridho kiai semestinya menjadi restu moral, bukan pengganti nalar. Namun dalam banyak kasus, konsep ridho justru menggantikan tanggung jawab individu.

Ketika santri diajarkan untuk tidak melangkah tanpa izin kiai, ia perlahan kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Akal yang dibungkam atas nama ketaatan tidak lagi menjadi cahaya, melainkan rantai.

Agama kehilangan ruhnya ketika manusia berhenti menggunakan akal untuk memahami Tuhan. Sebab, iman tanpa nalar hanya melahirkan kepasrahan, bukan kesadaran.

Agama semestinya menumbuhkan keberanian untuk berpikir, bukan menakut-nakuti mereka yang bertanya. Keikhlasan tidak seharusnya dipelihara lewat ketakutan, tetapi melalui pemahaman yang mendalam.

Ridho kiai tentu penting, tetapi ia tidak boleh menjadi alasan untuk menolak akal sehat. Sebab, Tuhan tidak meminta kita berhenti berpikir. Ia justru memerintahkan manusia untuk membaca, merenung, dan menggunakan akalnya agar iman tumbuh dengan sadar.

Di Sidoarjo, para ustaz menolak uang dengan alasan mengharap ridho kiai. Tapi mungkin yang lebih penting dari itu adalah pertanyaan: apakah kita masih berani berpikir, atau kita sudah terlalu takut untuk tidak tunduk?

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments