Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Di tengah puing-puing sisa banjir bandang yang melanda Aceh, sebuah pemandangan ironis tersaji bagi dunia. Gajah-gajah sumatera, satwa yang habitatnya terus menerus tergerus oleh kerakusan manusia, justru diturunkan untuk membantu proses evakuasi dan pembersihan.
Dengan tenaga mereka, gajah-gajah ini menyingkirkan gelondongan kayu yang menyumbat akses jalan dan rumah warga, sebuah tugas berat yang bahkan sulit dilakukan oleh alat modern. Peristiwa ini adalah tamparan keras; satwa yang menjadi korban deforestasi kini harus membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh perusakan rumah mereka sendiri.
Hutan Kertas dan Akar Bencana
Akar masalah dari bencana ekologis yang berulang di Sumatera tidak bisa dilepaskan dari model pengelolaan hutan yang ada. Perusahaan-perusahaan besar, seperti PT Toba Pulp Lestari (TPL), mengelola Hutan Tanaman Industri (HTI) dalam skala masif. Di atas kertas, ini adalah aktivitas legal untuk memproduksi bubur kertas (pulp).
Namun, praktiknya seringkali mengabaikan keseimbangan ekologis. HTI bukanlah hutan sejati; ia adalah perkebunan monokultur berisi pohon-pohon seragam seperti eukaliptus yang rakus air dan tidak mampu menahan erosi sebaik hutan alami yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Akibatnya, ketika hujan deras tiba, tanah tidak lagi mampu menyerap air. Aliran permukaan meningkat drastis, membawa lumpur dan material kayu, lalu berubah menjadi banjir bandang yang menghancurkan.
Tindakan tegas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyegel sebagian area konsesi PT TPL dan beberapa pihak lain di Sumatera Utara menjadi bukti adanya dugaan kuat bahwa aktivitas industri ini berkontribusi pada bencana banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ini bukan lagi sekadar dugaan, melainkan sebuah pola yang terverifikasi di lapangan oleh otoritas.
Memulai dari Kesadaran Diri
Menyalahkan korporasi dan pemerintah memang mudah, namun lingkaran setan ini juga ditopang oleh gaya hidup kita yang konsumtif. Permintaan tak berujung terhadap kertas, tisu, dan produk turunan lainnya menjadi bahan bakar bagi industri yang merusak lingkungan. Mengubah keadaan ini menuntut perspektif baru yang dimulai dari diri sendiri. Kesadaran lingkungan bukanlah konsep yang muluk, ia bisa dimulai dari hal-hal kecil dan nyata:
- Kurangi Kertas, Selamatkan Pohon: Pikirkan kembali sebelum mencetak dokumen. Manfaatkan teknologi digital untuk membaca, mencatat, dan berkomunikasi. Jika terpaksa, gunakan kertas daur ulang dan cetak di kedua sisi.
- Telusuri Jejak Produk: Jadilah konsumen yang kritis. Cari tahu dari mana produk kertas yang Anda gunakan berasal. Dukung perusahaan yang memiliki sertifikasi pengelolaan hutan lestari yang kredibel.
- Edukasi dan Advokasi Digital: Gunakan media sosial bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menyebarkan kesadaran. Bagikan berita dan data valid tentang isu lingkungan. Suara kolektif di dunia maya memiliki kekuatan untuk menekan korporasi dan pembuat kebijakan.
Dukung Pelestari Lingkungan: Berikan donasi atau dukungan dalam bentuk apa pun kepada organisasi non-pemerintah yang bekerja di garis depan untuk melindungi hutan dan satwa liar di Sumatera.
Perubahan besar selalu lahir dari kesadaran-kesadaran kecil yang terakumulasi. Ironi gajah yang menyelamatkan manusia harus menjadi pengingat abadi bahwa kita berutang kehidupan pada alam, bukan sebaliknya.
Redaksi Energi Juang News



