Energi Juang News, Purworejo– Hidup di kota kecil Purworejo, Parno sosok yang dulu katanya suami idaman, paket lengkap seperti mie instan rasa komplit: ada telur, ada bawang, ada bonus kerupuk kebahagiaan. Hidup saya dulu mulus. Kalau hidup itu permainan ular tangga, saya lagi berdiri di kotak dengan tangga paling tinggi. Tinggal naik, foto, lalu unggah ke media sosial istri. Semua orang bertepuk tangan.
Parni, istrinya, menikah dengan Parno ketika semua perabotan calon istri sudah “matang”. Bukan cuma usia dan bodi yang sintal, tapi juga isi rekening yang bikin kenyang. Mereka seperti dua buah alpukat yang pas dibelah: sama-sama siap disantap kehidupan. Menikah, langsung hamil. Anak lahir, keluarga besar kompak. Rumah hangat seperti rice cooker yang lupa dimatikan, dapur selalu ngebul kasih sayang.
Tujuh tahun berlalu tanpa badai. Parno kerja banting tulang, Parni urus rumah. Semua kebutuhan lahir dan yang paling penting batin Parno terlayani ala bintang lima, kalo cape bisa pijet plus gratis . Ternyata penghasilan yang konsisten tanpa ada tambahan di situlah masalah muncul. Konsistensi ternyata bisa bikin Parni lupa bersyukur.
Ingin membantu beban suami, lalu Parni bilang ingin kembali kerja kantoran. Katanya rindu dandan rapi, rindu sibuk, rindu jadi “dirinya sendiri”. Parnopun setuju setelah diskusi panjang yang rasanya seperti rapat RT tapi tanpa snack. Anak anak dititipkan sekolah di mertua Parno. Di sinilah titik belok cerita, tempat roda kehidupan muter sambil nyengir karena kondisi sepi yang mendukung Parno menuruti kata setan .
Saat Parni mulai sibuk sehingga lambat laun rumah mulai tak terurus seperti gudang kenangan yang belum dibereskan. Setiap Parno pulang rumah tampak sepi yang tak biasa, tapi sepi ala kos-kosan habis ditinggal mudik. Parno merasa kehilangan peran utama dalam hidupnya, dan berpikir mendua.
Di kantor Parno, ada Priwi teman kerja yang mau mendengarkan curhatannya. Menggunakan aji mumpung, makin lama Parno membahas hal hal diluar konteks dan mulai nakal, maklum setelah suami istri kerja Sentolop Parno cenderung banyak nganggur. Dari ngajak makan siang bareng hingga bobok siang, tentu dengan siraman yang tak murah. Sementara di rumah, Parno merasa kesepian karena Parni yang sibuk dengan pekerjaan dan kondisi rumah sepi yang dipikir Parno hotel melati gratis.
Tanpa memikirkan omongan sekeliling Parno mulai berpikir aneh. “Aku kan juga manusia, aku cuma cari perhatian, Ini cuma sementara kok manjain sentolop.” Kalimat-kalimat itu seperti permen karet dikunyah lama rasanya manis, tapi nutrisinya nol. Dari situlah langkah-langkah kecil menuju kesalahan besar dimulai. Parno sering mengundang Priwi ke rumahnya saat Parni kerja. Rumah sepi yang dulu jadi sarang cinta, berubah jadi tempat dosa besar parkir.
Kalau ditanya kenapa Parno melakukannya, jawabannya bukan karena kurang cinta, tapi karena kurang syukur dan ngukur sentolopnya. Parno lupa bahwa hidup itu berputar. Dulu Parno di atas, sekarang harusnya waspada. Seperti orang yang lupa pakai helm karena jaraknya dekat, kalau tetap nekat siap berhadapan dengan murkanya Parni..
Mendengar bisik bisik tetangga yang nyampe ke kuping Parni, Istri sah Parno itu mulai bertanya siapa yang mulai menggantikan perannya diatas Kasur. Karena bukti kuat Parno tak bisa ngelak, gugatan cerai datang. Kata-katanya tajam tapi tenang. Parno ingin membela diri, tapi mulut saya seperti keyboard error tak bisa alasan yang diterima akal.
Bahtera yang selama ini mereka banggakan mulai retak dan berujung perceraian karena ulah orang ke tiga Priwi. Tentang lupa bahwa pasangan bukan furnitur rumah yang selalu ada di tempat, tapi manusia yang juga berubah perlu dijatah.
Kunci akar permasalahan timbul dari ketidakpuasan kondisi nyaman, ditambah api yang dating dari pembenaran diri.
Karena ketahuan Parno nekat mengutarakan soal beristri dua, namun mendapat penolakan dari mereka. Bahkan Parni melayangkan gugatan cerai, karena dikhianati.
Redaksi Energi Juang News



