Energi Juang News, Jakarta– Bagi sebagian generasi Z, sosok ini mungkin lebih dikenal sebagai pelukis, penanam pohon, atau figur publik yang tenang dan bersahaja. Namun bagi generasi yang tumbuh bersama radio, kaset pita, dan lirik yang terasa seperti tamparan halus di pagi hari, ia adalah suara yang membangunkan kesadaran. Seperti kopi pahit yang diminum tanpa gula, karya-karyanya tak selalu nyaman, tetapi jujur dan membekas lama di ingatan. Musik baginya bukan sekadar hiburan, melainkan cermin retak yang memantulkan wajah bangsa apa adanya.
Virgiawan Listanto, yang kemudian dikenal luas dengan nama panggung Iwan Fals, lahir pada 3 September 1961. Masa kecilnya banyak dihabiskan di Bandung, meski sempat merasakan hidup di Jeddah mengikuti orang tua. Bakat musiknya muncul sejak usia belasan tahun, tumbuh secara organik di jalanan kota. Pada usia 13 tahun, ia mengamen sambil mengasah kepekaan sosial—sebuah “sekolah kehidupan” yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum resmi, tetapi justru membentuk karakter dan keberanian artistiknya.
Ketika duduk di bangku sekolah menengah, kemampuan bermusiknya semakin terarah. Ia menjadi gitaris paduan suara sekolah dan mulai serius menulis lagu. Seperti pisau yang terus diasah di batu kasar, teknik gitar dan kekuatan liriknya berkembang dari pengalaman sehari-hari. Ketekunan ini membawanya ke Jakarta, kota yang sering digambarkan sebagai rimba beton bagi para perantau yang menggantungkan mimpi pada langit yang sama.
Album rekaman pertamanya lahir bersama kelompok Amburadul. Secara komersial, karya ini gagal di pasaran dan membuatnya kembali mengamen. Namun ironisnya, album tersebut kini justru menjadi artefak berharga, diburu kolektor layaknya vinyl langka. Dari awal, ia sudah berani menyuarakan isu sosial dan politik, sesuatu yang di masa itu terasa seperti berjalan di atas tali tipis tanpa jaring pengaman.
Titik balik besar datang ketika ia bergabung dengan Musica Studios dan merilis album Sarjana Muda pada 1980. Lagu-lagu seperti “Oemar Bakri” dan “22 Januari” menjadi nyanyian sehari-hari masyarakat. Dekade 1980–1990 bisa disebut sebagai masa emasnya. Produktivitasnya tinggi, dan karya-karyanya menjadi kronik sosial, seperti catatan kaki sejarah yang dinyanyikan. Lagu “Galang Rambu Anarki” hingga “Barang Antik” memperlihatkan keberaniannya menamai kegelisahan publik.
Ketika bergabung dengan SWAMI pada 1989, popularitasnya melesat lebih jauh. Lagu “Bento” dan “Bongkar” menjadi seperti slogan tidak resmi bagi mereka yang merasa terwakili. Ia juga menunjukkan empati global lewat lagu “Ethiopia”, membuktikan bahwa kepedulian tidak berhenti di batas geografis. Prestasi demi prestasi diraih, mulai dari penghargaan musik hingga rekor penjualan album. Uniknya, di sela karier musik, ia juga aktif di dunia karate hingga tingkat nasional—sebuah bukti bahwa disiplin dan konsistensi berlaku lintas bidang.
Memasuki era 1990-an, kolaborasi dengan Kantata Takwa membuka ruang baru. Musik tidak lagi hanya menjadi lagu, tetapi forum diskusi terbuka. Konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi simbol bahwa seni bisa menyatukan puluhan ribu orang dalam satu frekuensi kesadaran. Namun, di puncak karier itulah duka besar datang. Wafatnya sang putra, Galang Rambu Anarki, pada 1997 membuatnya mundur sejenak dari dunia musik.
Masa jeda itu mengubah arah ekspresinya. Ketika kembali di awal 2000-an, warna musiknya lebih reflektif dan spiritual. Album Suara Hati menjadi ruang duka sekaligus penyembuhan. Lagu “Hadapi Saja” terasa seperti surat terbuka seorang ayah, jujur dan rapuh. Di periode ini pula, komunitas OI (Orang Indonesia) semakin menguat, bukan sekadar fanbase, melainkan jaringan solidaritas.
Setelah reformasi, kritik politik kembali menguat dalam album Manusia Setengah Dewa. Ia seakan menemukan kembali momentumnya, seperti pemain catur yang sabar menunggu langkah tepat. Album-album berikutnya menunjukkan fleksibilitasnya berkolaborasi dengan musisi lintas generasi, membuktikan bahwa relevansi bukan soal usia, melainkan keterbukaan.
Kini, di usia lebih dari enam dekade, ia tetap berkarya dengan cara yang lebih luas. Melalui album Pun Aku, lukisan, pameran Galeri Suara Hati, hingga gerakan menanam pohon, ia menunjukkan bahwa seni bisa hidup di banyak medium. Seperti pohon yang akarnya menghunjam dalam, warisannya terus memberi teduh bagi generasi berikutnya. Jejak panjang ini menjadikannya bukan sekadar musisi, tetapi bagian dari ingatan kolektif bangsa—sebuah legacy yang terus bernapas bersama waktu.



