Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Presiden Prabowo Subianto dikabarkan siap memberikan 1,4 juta hektare hutan adat kepada masyarakat adat. Konon, wacana pemberian 1,4 hutan adat itu untuk menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Kesiapan pemerintah itu diungkapkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dalam United for Wildlife Global Summit dan High-Level Ministerial Roundtable yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, pada 4 November 2025.
Kabar ini seharusnya menggembirakan bagi masyarakat adat. Sayangnya, fakta-fakta yang terpampang didepan mata membuat kegembiraan itu runtuh seketika.
Ketika kita mencermati data Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), hingga 2024, lebih dari 17 juta jiwa masyarakat adat hidup di wilayah adat seluas lebih dari 40 juta hektare.
Dari jumlah itu, baru sekitar 3,3 juta hektare mendapatkan pengakuan hukum melalui peraturan daerah atau penetapan pemerintah. Artinya, ada puluhan juta hektare lainnya yang yang belum diakui secara hukum oleh negara.
Fakta ini membuat janji pemerintah memberikan 1,4 juta hektare hutan adat menjadi tak lebih sekadar alunan dongeng yang membuai masyarakat adat. Karena angka itu masih sangat kurang dari luasan lahan adat yang belum diakui negara.
Yang lebih miris, perampasan tanah adat juga masih terus terjadi. AMAN mencatat pada 2024, perampasan wilayah adat mencapai 2,8 juta hektare dengan disertai tindak kriminalisasi dan kekerasan.
AMAN juga mencatat terdapat 250 kasus konflik masyarakat adat dengan negara dan perusahaan dalam lima tahun terakhir.
Semua itu terjadi karena pada umumnya, proyek-proyek pembangunan digelar oleh negara maupun korporasi tanpa disertai persetujuan bebas dari masyarakat adat.
Data AMAN juga menunjukkan, dalam sepuluh tahun terakhir masyarakat adat kehilangan 11,7 juta hektar wilayah adat akibat izin-izin ekstraktif. Negara, tampak membiarkan perusahaan menyerang masyarakat adat tanpa perlindungan hukum.
Maka negara seharusnya mengubah haluan politik dan ekonomi, dibandingkan melempar janji manis namun kosong. Sebab janji semanis apapun, akan menjadi bualan apabila tak disertai perubahan haluan.
Redaksi Energi Juang News



