EnergiJuangNews,Jakarta- Ada masa ketika musik Indonesia terasa seperti kota yang tak pernah tidur. Nada dan ritme berkejaran di radio, kaset, dan panggung kecil hingga besar. Periode itu melahirkan banyak karya yang tidak sekadar populer, tetapi juga berumur panjang. Bagi pendengar yang tumbuh dengan kesadaran budaya, musik dari dekade lampau bukan nostalgia kosong, melainkan penanda bahwa kualitas selalu menemukan jalannya sendiri.
Kritikus musik Indonesia kerap menyebut era 1980 dan 1990-an sebagai masa subur kreativitas. Banyak grup musik lahir dengan identitas kuat, berani berbeda, dan tidak tunduk pada selera pasar sesaat. Dari lanskap itulah muncul sebuah kelompok yang namanya diambil dari simbol alam paling dahsyat di Nusantara: Krakatau. Seperti gunung api yang menjadi inspirasi namanya, perjalanan mereka tidak selalu tenang, tetapi selalu menyimpan energi.
Grup ini lahir dari prakarsa empat musisi yang sama-sama berasal dari Jawa Barat: Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono, dan Donny Suhendra. Pemilihan nama Krakatau bukan sekadar geografis, melainkan simbolik. Gunung berapi di barat Jawa itu mewakili daya ledak, siklus diam dan aktif, serta kekuatan yang tak pernah benar-benar hilang. Analogi ini kelak terasa sangat relevan dengan perjalanan musikal mereka.
Secara musikal, Krakatau bergerak di wilayah jazz dengan keberanian bereksperimen. Mereka tidak pernah terjebak dalam satu formula. Personel yang berganti-ganti justru menjadi bagian dari dinamika kreatif. Kini, formasi mereka diisi oleh Trie Utami pada vokal, Dwiki Dharmawan dan Indra Lesmana di piano serta keyboard, Pra Budi pada bass, Donny Suhendra pada gitar, dan Gilang Ramadhan di drum. Kombinasi ini ibarat dapur dengan koki berpengalaman—masing-masing membawa rasa, tetapi tahu kapan harus saling menguatkan.
Produktivitas Krakatau melahirkan sepuluh album dengan kualitas musikal yang konsisten. Kemampuan ini tidak muncul secara instan. Ia ditempa oleh jam terbang panjang, disiplin latihan, dan keberanian mengambil risiko artistik. Dalam dunia musik, mereka seperti atlet maraton yang tidak mengandalkan sprint singkat, tetapi stamina jangka panjang. Itulah mengapa karya-karya mereka tetap terdengar segar meski waktu terus berjalan.
Namun, seperti gunung berapi yang memasuki fase dorman, Krakatau juga pernah memasuki masa vakum. Tahun 2006 menjadi salah satu periode sunyi. Penyebabnya terdengar klasik: kejenuhan dan kesibukan masing-masing personel. Dalam konteks sejarah musik, fase ini bukan kegagalan, melainkan jeda. Seperti menarik napas panjang sebelum kembali menyelam lebih dalam.
Kebangkitan itu datang pada 2019 melalui sebuah konser yang jauh dari hingar-bingar. Krakatau Reunion memilih jalur intim. Hanya 30 penonton terpilih yang menyaksikan mereka di sebuah rumah yang diubah menjadi studio di Jakarta Selatan. Di sela konser, Gilang Ramadhan menyampaikan bahwa mereka akan kembali menggunakan nama Krakatau. Pilihan format konser ini seperti surat tulisan tangan di era pesan instan—sederhana, personal, dan penuh makna.
Meski lama tidak tampil bersama, energi bermusik mereka terasa utuh. Trie Utami, yang akrab disapa Mbak Iie, tampil seolah tak pernah kehabisan tenaga. Ia bahkan bercanda tentang masa lalu ketika kerap “dikerjai” di studio. Disuruh bernyanyi dengan nada tinggi hingga suara nyaris habis, baru kemudian sadar rekan-rekannya tertawa di belakang. Cerita ini menunjukkan satu hal penting: humor adalah perekat yang menjaga kreativitas tetap hidup.
Tentu, waktu membawa konsekuensi. Tempo kadang terlupa, detail kecil harus diulang. Namun alih-alih menjadi masalah, hal ini justru dijadikan bahan candaan. Indra Lesmana menyebut bahwa semakin dianggap melegenda, justru ada risiko terlena. Gilang Ramadhan menimpali dengan nada reflektif: gelar legenda bisa membuat seseorang berhenti belajar. Sikap inilah yang membuat mereka tetap relevan—menolak berpuas diri.
Publik mungkin telanjur menyematkan label legenda kepada Krakatau, dan itu wajar. Sepuluh album berkualitas adalah pencapaian langka. Namun bagi mereka, musik bukan monumen yang dipajang, melainkan proses yang terus bergerak. Mereka belum ingin berhenti. Semangat berkarya masih menyala, seperti magma yang terus bergolak di bawah permukaan.
Indra Lesmana pernah mengibaratkan perjalanan mereka dengan Gunung Krakatau itu sendiri. Pernah meletus, pernah tenang, tetapi selalu ada kelanjutan. Anak Krakatau berdiri kokoh sebagai simbol kelahiran baru. Analogi ini terasa pas: bubar bukan akhir, melainkan fase sebelum bentuk baru muncul.
Di tengah arus musik modern yang serba cepat, keberadaan Krakatau menjadi pengingat bahwa kedalaman musikal dan kesetiaan pada proses tidak pernah usang. Mereka membuktikan bahwa musik yang lahir dari kejujuran dan kerja panjang akan selalu menemukan pendengarnya. Dan benar saja, Krakatau semakin berkilau—bukan karena sorotan sesaat, melainkan karena pijar yang terus dijaga.
Redaksi Energi Juang News



