Energi Juang News, Jakarta- Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono selangkah lagi akan resmi menduduki kursi Deputi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Juda Agung, usai Komisi XI DPR menetapkan namanya sebagai pilihan dalam rapat internal dan menjadwalkan pengesahan pada Rapat Paripurna hari ini, Selasa, 27 Januari 2026.
Rapat Paripurna Penentu Jabatan Baru
Rapat Paripurna DPR dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WIB dengan salah satu agenda utama pengesahan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI terpilih. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa keputusan di tingkat komisi diambil melalui rapat internal dan akan dibawa ke forum paripurna untuk mendapatkan persetujuan akhir. “Nanti akan dibawa ke DPR RI untuk disahkan dalam rapat paripurna besok,” ujarnya, Senin, 16 Januari 2026.
Menurut Misbakhun, kesepakatan di Komisi XI dicapai melalui musyawarah mufakat tanpa catatan penolakan, sehingga proses pada sidang paripurna diproyeksikan berjalan mulus dan tepat waktu. Penentuan jadwal uji kelayakan dan paripurna pun disusun agar rotasi kepemimpinan di Bank Indonesia tidak berlarut dan transisi dari Juda Agung ke pejabat baru dapat berlangsung cepat.
Proses Fit and Proper Test di Komisi XI
Thomas Djiwandono bersaing dengan dua kandidat internal Bank Indonesia dalam uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur BI yang digelar Komisi XI DPR. Dua nama lain tersebut adalah Solikin Juhro, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, serta Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI.
Solikin menjalani fit and proper test pada Jumat, 23 Januari 2026, sementara Dicky diuji pada Senin siang, 26 Januari 2026, kemudian dilanjutkan dengan sesi uji kelayakan untuk Thomas pada sore harinya di ruang rapat Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta. Nama Thomas diumumkan sebagai calon Deputi Gubernur BI terpilih kurang dari 30 menit setelah ia menuntaskan rangkaian uji kelayakan, menandakan proses pengambilan keputusan yang berlangsung cepat dan solid di tingkat komisi.
Pertimbangan Komisi XI Memilih Thomas
Komisi XI DPR menilai Thomas sebagai figur yang profesional dan mampu memperkuat sinergi kebijakan moneter dan fiskal di tengah tantangan ekonomi saat ini. Dalam pemaparan akhir fit and proper test, ia dianggap mampu menjawab kebutuhan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah dan Bank Indonesia, terutama terkait stabilitas harga dan nilai tukar.
Mukhamad Misbakhun menyebut Thomas sebagai sosok yang dapat diterima seluruh fraksi dan menekankan bahwa catatan yang masuk dari anggota dewan justru bernada positif mengenai komitmennya terhadap profesionalisme dan independensi BI. “Bahkan banyak catatan-catatan yang masuk justru adalah catatan yang sangat positif, mengenai komitmen untuk memperkuat profesionalisme, independensi BI, dan sebagainya,” tutur Misbakhun.
Posisi Thomas di Lingkaran Kekuasaan
Thomas Djiwandono saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sekaligus merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto. Ia adalah putra pertama mantan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati, yang merupakan kakak kandung Prabowo.
Kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan sempat memunculkan sorotan terkait independensi BI, namun Komisi XI menegaskan bahwa penilaian terhadap Thomas berlandaskan pada rekam jejak profesional, kapasitas teknis, dan visi kebijakan yang ia paparkan dalam uji kelayakan. Di sisi lain, pengalaman Thomas sebagai pejabat fiskal dinilai bisa menjadi modal untuk memperkuat koordinasi kebijakan dengan otoritas moneter tanpa mengorbankan mandat independensi bank sentral.
Profil Singkat dan Rekam Jejak Thomas
Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono, atau Tommy, lahir di Jakarta, 7 Mei 1972. Ia menempuh pendidikan sarjana di Haverford College, Pennsylvania, Amerika Serikat, dan kemudian meraih gelar master di bidang International Relations and International Economics dari Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, Amerika Serikat.
Kariernya dimulai sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993, lalu berlanjut sebagai jurnalis di Indonesia Business Weekly pada 1994. Setelah itu, ia bekerja sebagai analis keuangan di Whetlock NatWest Securities, Hong Kong, sebelum masuk ke sektor korporasi sebagai Deputy CEO Arsari Group, perusahaan agrobisnis milik pamannya, Hashim Djojohadikusumo, pada 2006.
Di dunia politik, Thomas pernah menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra sebelum diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 18 Juli 2024. Pengalaman di media, pasar keuangan, korporasi, dan pemerintahan inilah yang kini menjadi bekal utamanya ketika melangkah ke posisi strategis sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, menunggu ketukan palu Rapat Paripurna DPR hari ini.
Redaksi Energi Juang News



