Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
BerandaEkonomi & BisnisIHSG Melemah Terbatas, Waspada Tekanan hingga 7.716

IHSG Melemah Terbatas, Waspada Tekanan hingga 7.716

Energi Juang News, Jakarta- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 4,73 persen dan parkir di level 7.935 pada penutupan pekan lalu, mencerminkan tekanan jual yang kuat di Bursa Efek Indonesia. Koreksi tersebut dikaitkan dengan kombinasi sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan keputusan Moody’s yang memangkas outlook Indonesia serta beberapa emiten.

Sentimen MSCI, Moody’s, dan Geopolitik AS–Iran

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan bahwa tekanan pada IHSG pekan lalu tidak lepas dari isu MSCI yang menambah kekhawatiran pelaku pasar. Di saat yang sama, Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, sehingga persepsi risiko dan sentimen investor terhadap sejumlah perusahaan domestik ikut tertekan. Dari sisi global, Imam menyoroti memanasnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat–Iran, setelah AS menjatuhkan sanksi baru atas ekspor minyak Iran sehingga menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.

Proyeksi IHSG: Melemah Terbatas di Rentang 7.716–8.207

“Secara keseluruhan, dengan masih tingginya faktor kehati-hatian global dan domestik, pergerakan pasar pada pekan ini diproyeksikan bervariasi cenderung melemah terbatas, dengan level support di 7.716 dan resistance di 8.207,” kata Imam dalam keterangan resmi pada Senin, 9 Februari 2026. Proyeksi itu mengindikasikan ruang koreksi IHSG masih terbuka, meski tekanan diperkirakan tidak akan berujung pada kejatuhan tajam selama area support utama tidak ditembus. Sejumlah analis lain juga memetakan zona koreksi IHSG di kisaran 7.712–7.785, dengan potensi penguatan kembali jika indeks mampu bertahan di atas area support tersebut.

Baca juga : Jatuhnya IHSG Bikin Prabowo Marah

Data Ekonomi AS, Cina, dan Indonesia Jadi Fokus

Memasuki periode 9–13 Februari 2026, Imam menegaskan perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat, Cina, dan Indonesia. Di AS, data inflasi menjadi sorotan karena diperkirakan melandai ke level sekitar 2,5 persen year on year, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Dari Cina, pasar akan mencermati data inflasi yang diproyeksikan turun ke sekitar 0,4 persen year on year, sehingga memberi sinyal lanjutan mengenai lemahnya permintaan dan efektivitas stimulus ekonomi di negara tersebut.

Sinyal dari Penjualan Ritel dan Mobil di Dalam Negeri

Di dalam negeri, investor menunggu rilis data penjualan ritel Desember 2025 yang menjadi indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. Pasar juga akan mengamati data penjualan mobil Januari 2026 sebagai gambaran awal tren konsumsi dan permintaan domestik pada awal tahun. “Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ucap Imam.

Dampak Lanjutan Keputusan Moody’s terhadap Emiten

Selain data ekonomi, pasar masih mencermati langkah Moody’s yang mengubah outlook Indonesia menjadi negatif dan dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan yang terkena revisi outlook. Perubahan ini berpotensi mengerek biaya pendanaan dan mengubah penilaian risiko atas surat utang maupun saham emiten terkait, sehingga mempengaruhi aliran dana masuk dan keluar dari pasar modal domestik. Jika ke depan terjadi penurunan peringkat kredit yang nyata, tekanan terhadap persepsi investor global terhadap Indonesia bisa semakin menguat dan memperpanjang tekanan koreksi IHSG.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments