Energi Juang News, Jakarta- Lonjakan harga energi global kembali menjadi perhatian pemerintah. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah membuat pasar energi bergerak liar, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal sejumlah negara berkembang. Pemerintah Indonesia pun menyiapkan berbagai simulasi untuk mengantisipasi dampaknya terhadap anggaran negara.
Skenario Jika Harga Minyak Menyentuh US$92 per Barel
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah melakukan simulasi fiskal jika harga minyak mentah dunia naik hingga US$92 per barel sepanjang tahun.
“Kami sudah exercise kalau harganya US$ 92 dolar selama setahun rata-rata, kan APBN setahun, maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.
Menurut dia, skenario tersebut dihitung berdasarkan kondisi terburuk dalam pergerakan harga minyak global. Jika harga tersebut bertahan dalam jangka panjang tanpa langkah penyesuaian dari pemerintah, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi melewati ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah Masih Punya Ruang Antisipasi
Purbaya menegaskan pelebaran defisit tidak serta-merta terjadi. Pemerintah masih memiliki sejumlah opsi kebijakan untuk menjaga kesehatan fiskal.
Salah satunya adalah melakukan efisiensi belanja negara, terutama pada pos anggaran yang dianggap tidak mendesak atau kurang produktif.
Baca juga : Purbaya Yudhi Sadewa Belum Tahu Isu Defisit APBN
Langkah tersebut dinilai cukup untuk meredam tekanan anggaran apabila harga minyak dunia terus naik dalam beberapa bulan ke depan.
Harga Normal Minyak Sekitar US$60 per Barel
Dalam perhitungan pemerintah, harga minyak global yang dianggap normal berada di kisaran US$60 per barel.
Kementerian Keuangan juga telah menyusun simulasi skenario menengah jika harga minyak naik hingga US$72 per barel. Dalam kondisi itu, kondisi fiskal Indonesia dinilai masih relatif aman dan tidak menimbulkan tekanan besar terhadap APBN.
Namun, jika harga melampaui US$90 per barel, pemerintah harus menyiapkan kebijakan tambahan untuk menjaga keseimbangan anggaran.
Indonesia Pernah Hadapi Harga Minyak US$150
Purbaya mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi periode harga minyak jauh lebih tinggi dari sekarang.
Saat itu harga minyak global sempat menembus US$150 per barel. Meski ekonomi mengalami perlambatan, kondisi tersebut tidak sampai memicu krisis besar di dalam negeri.
Pengalaman tersebut menjadi referensi pemerintah dalam menyusun langkah mitigasi jika lonjakan harga energi kembali terjadi.
Opsi Penyesuaian Harga BBM Masih Terbuka
Jika lonjakan harga minyak semakin membebani anggaran negara, pemerintah membuka kemungkinan melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
Namun hingga saat ini pembahasan mengenai kenaikan harga BBM bersubsidi belum dilakukan.
“Belum. Karena saya bilang, sekarang kita masih aman anggarannya,” ujar Purbaya.
Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak Naik
Kenaikan harga minyak global dalam beberapa hari terakhir dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dan blok Amerika Serikat–Israel mengganggu jalur distribusi energi dunia. Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak mentah global.
Data Trading Economics menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$84 per barel pada Jumat, 6 Maret 2026.
Dalam sepekan, harga minyak acuan Amerika Serikat itu melonjak sekitar 21 persen, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak 2020.
Sementara itu minyak mentah Brent juga mengalami kenaikan. Harga minyak acuan global tersebut naik 4,93 persen atau sekitar US$4,01 menjadi US$85,41 per barel.
Redaksi Energi Juang News



