Energi Juang News, Jakarta- Ada sebanyak 8.224 kasus campak sepanjang 1 Januari hingga 23 Februari 2026 yang dicatat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Walhasil, kasus campak saat ini pun menjadi kekhawatiran masyarakat.
Dari data tersebut, ada sebanyak 21 kejadian luar biasa suspek campak. Kasus tersebar dari 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.
Kekhawatiran juga meningkat setelah banyak video di media sosial yang membahas soal penyakit ini.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), IPB University dr Aisyah Amanda Hanif mengatakan kasus campak ini dapat menular dari satu orang kepada 12-18 orang.
Ia membeberkan sebuah studi yang mengungkap hamir 90 persen orang tidak punya kekebalan terhadap virus campak ini. Adapun penguatan kekebalan imun terhadap virus campak dapat dilakukan lewat imunisasi.
“Jika cakupan imunisasi menurun, jumlah individu yang rentan akan meningkat. Ketika virus masuk ke komunitas dengan banyak orang yang belum memiliki kekebalan, wabah dapat terjadi dengan lebih mudah,” ujarnya.
Aisyah mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan campak. Pasalnya, campak mudah menular lewat saluran pernafasan dengan media udara.
“Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan memperbanyak diri dan menyebar ke berbagai organ. Respons imun tubuh terhadap infeksi inilah yang kemudian menimbulkan ruam khas pada pasien campak,” katanya.
Saat seseorang terkena campak, ada beberapa komplikasi serius yang bisa dialami pasien. Misalnya pada bayi dan anak dapat menyebabkan gizi buruk atau sistem imun rendah.
Lebih parahnya, komplikasi yang dapat terjadi adalah radang paru (pneumonia) sekaligus radang otak (ensefalitis).
“Infeksi campak juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga pasien lebih mudah terkena infeksi sekunder akibat bakteri. Kondisi ini dapat memperburuk keadaan hingga berisiko menyebabkan kematian,” beber Aisyah.
Untuk mencegah kasus campak meningkat, Aisyah menekankan pentingnya vaksin campak. Vaksin dapat melatih sistem imun tubuh sehingga kebal terhadap potensi campak.
“Campak adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan kesadaran masyarakat yang baik, penyebaran campak dapat dicegah,” katanya.
Ia menerangkan berdasarkan bukti ilmiah, vaksin campak efektif sampai 95 persen pada seseorang yang telah divaksin sebanyak dua dosis.
“Setelah vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi spesifik serta memori imun jangka panjang. Jika suatu saat terpapar virus campak, sistem imun dapat merespons dengan cepat dan menetralisir virus sebelum menyebabkan penyakit,” ungkapnya.
Vaksin campak ini seharusnya telah diberikan kepada anak saat imunisasi. Namun, bagi yang belum mendapatkannya saat kecil maka dapat mencoba imunisasi kejar atau catch-up vaccination.
Aisyah mengingat masyarakat agar memastikan anak-anaknya memperoleh imunisasi campak. Jika anak sudah terlanjur terindikasi gejala campak, maka segara isolasi agar tak menular ke orang lain.
Redaksi Energi Juang News



