Energi Juang News, Jakarta- Aktivitas ekspor produk kelautan dari Indonesia mengalami tekanan serius dalam beberapa pekan terakhir. Gangguan distribusi internasional membuat pengiriman hasil tangkapan nelayan melambat dan memicu kenaikan biaya logistik di sejumlah jalur perdagangan utama.
Gangguan Rantai Pasok Tekan Volume Ekspor
Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat penurunan volume ekspor perikanan yang berkaitan dengan konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang memanas sejak akhir Februari 2026.
“Dari sisi volume memang agak terkendala,” kata Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Ishartini dalam keterangan tertulis, Selasa, 17 Maret 2026.
Menurut Ishartini, turunnya volume pengiriman bukan disebabkan melemahnya permintaan pasar global. Hambatan utama justru datang dari rantai pasok internasional yang berubah drastis akibat konflik tersebut.
Perubahan rute kapal, kenaikan biaya tambahan logistik, serta keterbatasan kontainer dan mother vessel membuat proses distribusi lebih panjang dan mahal. “Semuanya itu juga berkontribusi dalam menaikkan harga produk,” kata dia.
Penurunan Tajam Dibanding Tahun Lalu
Data kementerian menunjukkan volume ekspor ikan selama periode konflik turun hingga 41,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dampaknya ikut menekan nilai ekspor yang merosot sekitar 21,71 persen.
Situasi ini mendorong pemerintah untuk memperkuat penyerapan produk perikanan di pasar domestik. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas perdagangan sektor kelautan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Nilai Ekspor Tembus Rp 16,7 Triliun
Meski menghadapi tekanan, nilai ekspor perikanan sejak awal tahun hingga menjelang Lebaran masih mencapai US$ 983.147.052,32.
“Sampai dengan penghentian sementara angkutan barang pada 13 Maret lalu, sistem kami mencatat bahwa ekspor ikan ke berbagai negara telah mencapai 197.718,80 ton yang ditaksir nilainya mencapai Rp 16,7 triliun,” kata Ishartini.
Perhitungan tersebut berasal dari data penerbitan Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP). Dokumen ini menjadi syarat penting pemenuhan standar keamanan pangan di sekitar 140 negara tujuan ekspor.
Pasar Utama dan Komoditas Andalan
Sepuluh negara penyerap terbesar produk perikanan Indonesia saat ini meliputi Amerika Serikat, Cina, Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia, Arab Saudi, Taiwan, dan Singapura.
Secara keseluruhan terdapat 486 HS Code produk perikanan yang diperdagangkan. Komoditas unggulan ekspor antara lain udang vanname, tuna, cumi-cumi, rajungan, rumput laut, cakalang, kepiting, udang windu, ikan layur, serta gurita.
Ishartini menilai keragaman komoditas tersebut menunjukkan produk perikanan Indonesia memiliki tingkat penerimaan tinggi di pasar global. Standar mutu dan keamanan pangan juga dinilai mampu menjaga kepercayaan mitra dagang.
Redaksi Energi Juang News



