Rabu, Mei 20, 2026
spot_img
BerandaEkonomi & BisnisPidato Kenegaraan Bergema, IHSG Sempat Terkoreksi

Pidato Kenegaraan Bergema, IHSG Sempat Terkoreksi

Jakarta, Energi Juang News- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu ini menunjukkan dinamika yang cukup intens. Setelah dibuka di zona hijau di level 6.352, indeks berbalik arah dan ditutup melemah tipis ke posisi 6.332 pada akhir sesi pertama. Fluktuasi tajam terjadi di tengah pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang membahas sejumlah arah kebijakan ekonomi baru, termasuk rencana pembentukan badan ekspor komoditas nasional.

Berdasarkan pantauan di Bursa Efek Indonesia, IHSG sempat melesat ke level 6.459 sebelum pidato dimulai, namun langsung turun drastis menyentuh 6.215 saat kepala negara menguraikan rencana strategisnya. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar yang tengah menyerap berbagai sinyal kebijakan.

Terdapat dua agenda utama yang menjadi sorotan hari itu. Pertama, penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) tahun anggaran 2027 oleh Presiden secara langsung di DPR sebuah langkah yang berbeda dari tradisi sebelumnya yang biasanya dilakukan oleh Menteri Keuangan. Kedua, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dinanti-nanti terkait arah suku bunga acuan di tengah tekanan pelemahan rupiah.

Muhammad Adityo Nugroho, analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa volatilitas yang terjadi sangat dipengaruhi oleh pidato presiden. “Pasar sempat menguat, tapi seiring penyampaian pidato, IHSG kembali terkoreksi tipis. Investor masih menunggu kejelasan soal arah kebijakan, terutama pembentukan badan ekspor yang mewajibkan ekspor sumber daya alam melalui BUMN,” jelasnya.

Kebijakan ekspor satu pintu ini menjadi sorotan utama. Presiden Prabowo menargetkan implementasi bertahap mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026, dan berlaku penuh pada 1 September 2026. Tiga komoditas utama yang masuk dalam skema ini adalah kelapa sawit, batubara, dan ferroalloy. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat devisa hasil ekspor yang diperkirakan mencapai Rp 1.100 triliun, mencegah praktik underinvoicing, serta meningkatkan transparansi pengelolaan komoditas strategis.

Baca juga :  Suntikan Modal Fantastis Garuda Indonesia: Transformasi Bisnis Lewat Dana Triliunan

Meski indeks utama bergerak mixed, saham perbankan besar seperti Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia masih mencatat penguatan sekitar 2,9 persen dan 1,3 persen. Namun, tekanan besar justru terjadi pada saham berbasis mineral dan petrokimia, termasuk Amman Mineral, sebagai imbas dari kebijakan MSCI sebelumnya serta kekhawatiran akan kompleksitas administrasi pada masa transisi badan ekspor.

Analis Phintraco Sekuritas dalam laporannya menilai bahwa regulasi ekspor baru ini berpotensi memperpanjang rantai proses transaksi di tahap awal, menekan margin perusahaan karena kurangnya fleksibilitas perdagangan sementara. Sementara itu, Head of Investment Information Mirae Asset, Martha Christina, menekankan bahwa pengusaha hanya butuh satu hal: kepastian hukum. “Hari ini bilang A, ke depan harus tetap A. Apapun kebijakannya, yang nomor satu adalah konsistensi regulasi,” tegasnya.

Ke depan, investor masih akan mencermati apakah rencana besar pemerintah ini mampu menjadi sumber pendapatan baru yang cepat, di tengah kebutuhan anggaran yang membengkak akibat kenaikan harga bahan bakar minyak global. Keputusan BI Rate siang ini juga akan menjadi penentu sentimen pasar pada perdagangan selanjutnya.

Redaksi Energi Juang News

 

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments