Energi Juang News,Jogyakarta- Ketika kereta meluncur perlahan meninggalkan Stasiun Tugu Yogyakarta didalam Adrian, seorang mahasiswa teologi yang sejak tadi memandangi jendela dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat, matanya cekung seperti kurang tidur berhari-hari.
Ketika kereta mulai melewati kawasan sawah menuju Maguwo, lelaki itu menoleh perlahan lalu bertanya dengan suara pelan, “Pak… panjenengan pernah dengar istilah nandur demit?” Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi entah mengapa bulu kudukku langsung meremang.
Ia kemudian membuka tas lusuhnya dan mengeluarkan map berisi foto-foto pohon beringin tua di daerah Baturetno. Dari situ ia mulai bercerita bahwa selama dua bulan terakhir, ia meneliti program penghijauan di sekitar aliran sungai yang mulai mengering.
Namun anehnya, setiap lokasi penanaman beringin selalu diikuti kejadian ganjil. Warga mendengar suara tangisan malam hari, ternak hilang tanpa bekas, dan beberapa orang mengaku melihat sosok hitam berdiri di dahan pohon. “Warga bilang itu bukan sekadar pohon,” katanya lirih.
“Mereka percaya ada yang ikut ditanam bersama akarnya.” Seorang ibu penjual peyek yang duduk di depan kami tiba-tiba ikut menyela pembicaraan. “Mas, jangan ngomong keras-keras soal itu,” bisiknya ketakutan. “Di Delanggu kemarin ada orang hilang gara-gara nebang akar beringin.” Mahasiswa itu tersenyum tipis.
“Saya justru datang ke sana setelah kejadian itu.” Kereta berguncang keras ketika melewati sambungan rel. Dari jendela tampak langit semakin gelap seperti akan hujan besar. Lelaki itu lalu memperlihatkan foto seorang pria tua dengan mata melotot dan mulut berbusa.
“Namanya Pak Wiryo,” katanya. “Meninggal tiga hari setelah bilang melihat perempuan rambut panjang turun dari pohon beringin dekat mata air.” Nafasku terasa berat mendengar ceritanya. Suara roda kereta kini terdengar seperti bisikan panjang yang berulang-ulang menyebut kata yang sama: demit… demit… demit.
Ketika kereta melewati wilayah Sleman menuju Klaten, Adrian mulai bercerita tentang malam paling mengerikan selama penelitiannya. Saat itu ia dan tiga warga sedang berjaga di dekat mata air yang mulai dipenuhi pohon beringin muda.
Mereka sengaja ronda karena beberapa hari sebelumnya seorang anak kecil hilang setelah bermain di sekitar sungai. Menurut saksi, sebelum menghilang bocah itu sempat bicara sendiri di bawah pohon sambil tertawa seperti sedang diajak bermain seseorang. “Malam itu sepi sekali,” kata Adrian pelan. “Bahkan suara jangkrik tidak ada.”
Sekitar pukul satu dini hari, mereka mendengar bunyi gamelan samar dari tengah hutan. Suaranya lirih, seperti berasal dari tempat sangat jauh. Pak Danu, salah satu warga yang ikut ronda, langsung pucat. “Jangan ditanggapi,” katanya gemetar. Namun suara gamelan itu semakin lama semakin dekat. Angin mendadak bertiup sangat dingin hingga lampu sentir mereka padam satu per satu.
Dari balik akar beringin, muncul sosok perempuan memakai kebaya lusuh berwarna putih kecoklatan. Rambutnya panjang menutupi wajah dan kakinya tidak menyentuh tanah. “Siapa di situ?” teriak Adrian waktu itu. Sosok itu diam. Tetapi suara tertawa kecil mulai terdengar dari segala arah. Tawa perempuan. Banyak sekali. Pak Danu langsung membaca doa sambil mundur ketakutan.
Tiba-tiba salah satu warga yang bernama Sugeng menjerit keras. Tubuhnya ditarik sesuatu ke arah akar pohon. Adrian mengaku melihat tangan hitam kurus keluar dari tanah dan mencengkeram kaki Sugeng. Mereka berusaha menarik tubuh lelaki itu, tetapi kekuatannya seperti ditahan dari bawah tanah. “Tolong… ojo tinggalke aku!” teriak Sugeng sebelum tubuhnya mendadak lemas.
Ketika berhasil diselamatkan, wajah Sugeng berubah pucat kebiruan dan matanya melotot seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Sejak malam itu ia tidak pernah bisa bicara lagi. Warga percaya ia melihat wajah asli penunggu beringin tersebut. Seorang ibu di gerbong tiba-tiba menutup telinga anaknya yang sedari tadi mendengarkan cerita itu. “Astagfirullah… jangan diteruskan Mas,” katanya ketakutan. Tetapi Adrian hanya menatap hujan di luar jendela. “Masalahnya,” ucapnya lirih, “itu belum yang paling menyeramkan.”
Kereta kini mulai mendekati Klaten dan suasana mendadak terasa pengap. Anehnya, meski AC menyala, udara di gerbong terasa semakin dingin seperti ada sesuatu yang ikut duduk mendengarkan cerita kami.
Redaksi Energi Juang News



