Energi Juang News, Jakarta- Miss Universe 2025 Fatima Bosch terseret masalah hukum. Nawat Itsaragrisil yang menjabat sebagai CEO Miss Universe Eastern sekaligus Presiden Miss Grand International menyatakan proses penerbitan surat penangkapan terhadap wanita asal Meksiko itu dipercepat terkait kasus pencemaran nama baik.
Disisi lain, Miss Universe Organization (MUO) memberikan dukungan kepada Fátima. Organisasi itu menegaskan bahwa perempuan tidak seharusnya takut bersuara ketika merasa diperlakukan tidak pantas.
Perseteruan Fátima dan Nawat bermula dari insiden dalam rangkaian Miss Universe 2025 di Thailand pada 4 November 2025. Saat itu, Nawat yang terlibat dalam penyelenggaraan Miss Universe Thailand menegur Fátima terkait keikutsertaannya dalam kegiatan promosi hingga terjadi perselisihan yang disaksikan sejumlah kontestan.
Beberapa peserta bahkan meninggalkan ruangan sebagai bentuk solidaritas. Nawat kemudian melaporkan Fátima secara pidana dengan tuduhan membuat pernyataan yang dianggap tidak benar dan merusak reputasinya.
Meski kasus tersebut bergulir, Fátima tetap melanjutkan kompetisi hingga akhirnya dinobatkan sebagai Miss Universe 2025 pada 21 November 2025. Persoalan ini kembali mencuat setelah Nawat mengunggah Instagram Story pada 22 Agustus 2026.
“Fátima Bosch saat ini menjalani proses dipercepat untuk penerbitan surat penangkapan terkait kasus pencemaran nama baik, tuduhan palsu, dan penyebaran informasi palsu,” tulis Nawat.
Tak lama setelah pernyataan tersebut muncul, MUO mengeluarkan pernyataan resmi pada 23 Agustus 2026 yang secara khusus menyatakan dukungan kepada Fátima. MUO menegaskan bahwa intimidasi, penghinaan, pelecehan, dan perlakuan buruk terhadap perempuan dalam bentuk apa pun tidak dapat diterima.
“Tidak ada perempuan yang seharusnya merasa harus diam demi melindungi kesempatan, posisi, gelar, atau impiannya,” tegas MUO.
Organisasi tersebut bahkan secara langsung menyinggung perlakuan yang dialami Fátima dari Nawat.
“Ketika Fátima Bosch bersuara untuk membela martabatnya setelah perlakuan yang dialaminya dari Nawat Itsaragrisil, ia mengingatkan perempuan di seluruh dunia akan satu hal mendasar: rasa hormat bukan sesuatu yang kita dapatkan dengan cara diam. Rasa hormat adalah hak,” tulis MUO.
Redaksi Energi Juang News




