Energi Juang News, Jakarta – “Bapak Presiden, pondok ini menetapkan, memutuskan, untuk memilih pendidikan”. Kalimat ini disampaikan langsung oleh Kiai Hasan Abdullah Sahal di depan Presiden Prabowo Subianto saat Tasyakuran 100 Tahun Pondok Gontor.
Komitmen pesantren yang berdiri tahun 1926 ini tidak pernah berubah. Bagi Gontor pendidikan sebagai kunci kemajuan sebuah bangsa adalah harga mati. Sejak Mbah Sahal, ayahanda Kiai Hasan, pulang dari Kongres Umat Islam di Surabaya tahun 1926, ia bersama dua saudaranya, Mbah Zar dan Mbah Fanani, mulai merintis lembaga pendidikan yang kelak dikenal orang sebagai Gontor. Dari kongres yang sama, Syaikhuna Mbah Hasyim Asy’ari, pulang dan mendirikan organisasi, bernama Nahdlatul Ulama.
Gontor dan NU Lahir dari Sama-sama Gelisah
Di Surabaya mereka bertemu, juga berdialog bersama ulama besar pada masa itu seperti H.O.S Cokro Aminoto dan KH. Agus Salim. Bisa dibilang, Gontor dan NU lahir dari kegelisahan yang sama, ketika bangsa ini membutuhkan kebangkitan umat Islam untuk melawan penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan.
Mbah Hasyim, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri, Mbah Kholil Bangkalan, dan kiai sepuh lain dengan pengalaman mengelola pesantren, mendirikan organisasi yang diberi nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Sebaliknya, Mbah Zar, Mbah Sahal, dan Mbah Fanani dengan pengalamannya menjalankan organisasi kepemudaan, mendirikan pesantren.
Tahun 1936, racikan dari tiga bersaudara yang disebut Tri Murti ini, berkembang menjadi sistem pendidikan, Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah, KMI, persemaian guru-guru Islam dengan ciri utama organisasi kepemudaan. Anak-anak muda, dilatih, digembleng, di kawah candradimuka, lewat penugasan mengelola pesantren. Sistem pendidikan kaderisasi ini dijalankan sejak organisasi kelas, kamar asrama, organisasi pelajar, hingga pimpinan tertinggi di pesantren. Dari urusan belajar hingga makan, dikelola mandiri oleh santri.
Persemaian Para Pejuang Kemerdekaan
Di era penjajahan, pesantren-pesantren memang menjadi lumbung pelatihan “militer” untuk kamuflase pergerakan perjuangan yang kala itu bertumpu pada anak-anak muda. Ketika tafsir-tafsir tentang jihad melawan penjajah banyak diberangus oleh Pemerintah Hindia Belanda, Kiai Gontor berinovasi dengan membuat Tafsir Madrosi, tafsir tipis berbahasa Arab ke Arab untuk anak sekolah.
Jadi, ketika hari ini ada yang bertanya mengapa pendidikan di Gontor dan juga pesantren lainnya nampak “keras”, karena DNA-nya adalah persemaian para pejuang kemerdekaan. Komitmen Gontor menjadi lembaga pendidikan tidak pernah berubah, di tengah godaan perubahan lanskap sosial politik Indonesia yang hari demi hari kian membuat orang mabuk dunia.
Melewati fase perjuangan, kemerdekaan, orde demi orde, hingga Prabowo datang dan berdiri di aula pertemuan Gontor yang baru direnovasi itu. Lewat mikrofon yang hanya berjarak beberapa meter ke Presiden RI ke-8, Kiai Hasan mendeklarasikan ulang komitmen itu, “Bapak Presiden, pondok ini menetapkan, memutuskan, untuk memilih pendidikan”, tegas dan mendalam.
Kita tidak bisa menduga-duga dan tidak bisa bebas menafsir, apakah ada perbincangan sebelumnya antara Kiai Hasan dan Presiden Prabowo, hingga kalimat penegasan itu disampaikan di depan ribuan hadirin tamu undangan. Ini semacam deklarasi makna dan tujuan 100 tahun Gontor.
Inilah “Makan Bergizi Gontor”. Republik ini merdeka bukan karena jaminan dari makanan berprotein tinggi, berkarbohidrat, berserat, dan bervitamin cukup. Generasi pejuang lahir dari kawah candradimuka.
Kiai Abdullah Syukuri Zarkasyi sering mengutip pidato Bung Karno tentang Negeri Utara Kuru dalam kisah Ramayana. Sebuah negeri yang tidak ada panas yang terlalu panas, tidak ada dingin yang terlalu dingin, segalanya itu tenang, adem tentrem. Dalam kitab Ramayana dijelaskan, negeri seperti ini tidak bisa menjadi negeri yang besar.
Negara Utara Kuru ini dijadikan contoh oleh Kiai Syukri, agar pondok tidak seperti itu. Harus up and down, up and down. Makan disuapi, diberi, dimanjakan. Di Gontor, santri-santri up and down, mendapatkan segala rasa, sedih, tangis, bahagia, duka, luka, tawa, senyum, kehilangan, kebersamaan, dan segala rasa yang diciptakan Tuhan. “Apa kalian mau jadi seperti negeri Utara Kuru?”, tanya Kiai Syukri kepada ribuan santri meniru orasi Bung Karno di depan rakyatnya. “Tidak!!!!!!”, jawab santri seperti jawaban rakyat di hadapan Bung Karno.
Bagi santri, lauk terbaik adalah lapar. Dengan kegiatan beraneka rupa dari detik pertama membuka mata di kala fajar, hingga kembali ke asrama di malam hari untuk merebahkan badan. Bahkan, Gontor punya adagium yang terus diulang untuk menghidupkan kawah candradimuka ini, “Al-Ma’hadu Laa yanaamu abadan”, pondok tidak pernah tidur.
Tempe dan daging tentu berbeda kandungan protein, tapi ritme dan dinamika kegiatan santri adalah penentu utama output yang akan dihasilkan. Santri yang hidupnya enak, makanan diantarkan, piring dicucikan, akan jadi manusia kuat badannya, tapi bukan mentalnya. Persis rakyat di Negeri Utara Kuru, tidak bisa menjadi bangsa yang besar.
Di akhir pidato, Kiai Hasan menawarkan Pak Presiden, “Pak, makan siang di sini ya!”. Tentu tidak makan MBG, karena di sana tidak ada.
Indah nian Makan Bergizi Gontor, tahu tempe yang ukurannya kecil-kecil itu, mampu membentuk manusia Indonesia yang siap berjuang untuk membela bangsa dan agama.
Redaksi Energi Juang News




