Energi Juang News, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan tim keamanan nasionalnya di tengah pertimbangan AS mengenai apakah akan melanjutkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran. Fox News melaporkan, para pejabat senior mengonfirmasi adanya pertemuan di Gedung Putih pada hari Rabu dan Kamis,
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) dilaporkan juga tengah merampungkan persiapan untuk kemungkinan dilakukannya operasi tersebut.
“Jika memungkinkan, saya lebih memilih untuk tidak menghancurkan sisa wilayah negara itu, tetapi mungkin saya harus melakukannya. Anda akan segera mengetahuinya,” ujar Trump kepada para wartawan.
Belum ada perintah untuk melanjutkan operasi militer, namun para pejabat tengah mempertimbangkan langkah selanjutnya seiring dengan pertimbangan Washington untuk mengambil tindakan lebih lanjut terhadap program nuklir Iran.
Sementara itu, Angkatan Udara AS baru saja memindahkan pesawat mata-mata yang jumlahnya hanya ada 2 unit di dunia, dan pesawat itu kini diarahkan ke Iran. Akun @WhaleNewsDaily di platform X menulis. satu unit pesawat RC-135U “Combat Sent” melintasi Atlantik. Pesawat tersebut mendarat di Inggris minggu ini—lokasi yang sama dengan tempat pesawat-pesawat AS singgah sebelum melancarkan serangan ke Iran dalam “Operation Midnight Hammer”.
Pesawat ini tugasnya melacak dan mengidentifikasi radar musuh, baik di darat, di laut, maupun di udara. Terakhir kali pesawat yang sama tiba, perang pecah 2 hari kemudian. Prediksi saat ini: serangan akan terjadi dalam waktu 48 jam ke depan.
Sedangkan Current Report melaporkan, empat kapal yang terkait dengan Iran terpantau melakukan pergerakan tidak lazim tepat di atas kabel internet bawah laut yang vital di Teluk Oman.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Iran mengancam akan menyasar kabel bawah laut dan pusat data jika Amerika Serikat serta Israel melancarkan serangan baru terhadap negara tersebut.
Kerusakan apa pun pada kabel-kabel ini dapat mengganggu konektivitas internet di seluruh wilayah Teluk, mengingat Irak, Kuwait, Bahrain, dan Qatar sangat bergantung pada kabel yang membentang melalui kawasan tersebut.




